Artikel Terbaru

Panti Asuhan Rumah Yusup Baturaja: Menata Langkah Masa Depan

Panti Asuhan Rumah Yusup Baturaja: Menata Langkah Masa Depan
1 (20%) 1 vote

Arus zaman semakin berubah. Proses pendampingan anak pun menuntut lebih banyak tenaga dan waktu. Untuk itu, pemimpin PARY Romo Dionisius Anton Liberto meminta bantuan para suster-suster Fransiskanes dari Santo Gregorius Martir (FSGM) yang tinggal di komunitas St Antonio Baturaja. Suster-suster FSGM diminta ambil bagian dalam proses pendampingan anak-anak panti.

Seminggu dua kali secara bergantian para suster FSGM menemani dan mendampingi anak-anak panti bekerja dan belajar dari sore hingga malam. “Anak-anak putri lebih terbuka kepada suster untuk menceritakan hidup dan pribadinya,” ungkap Romo Liberto.

Romo kelahiran Nusatunggal, Blitang, 5 Oktober 1984 ini berusaha menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak asuhnya. Dengan demikian, anak-anak panti bisa bertumbuh dalam kesucian, kesehatan, pengetahuan, dan hidup bermasyarakat.

Setiap anak diberi tugas dan tanggungjawab di pos masing-masing. Ada yang di kapel, kebun, ruang belajar, atau di ruang makan. Mereka ditempa dan dididik menghargai waktu, disiplin diri, mandiri, kerja sama, dan tanggung jawab.

Romo Liberto mengaku, tidak mungkin mampu menjaga anak-anaknya selama 24 jam terus-menerus. Karena itu, PARY membuat aturan agar anak-anak panti bisa bertumbuh dalam kemandirian. Saat berdoa dan bekerja, putra dan putri penghuni panti bergabung. Sementara saat makan, belajar, tidur, dan bermain dibuat terpisah. “Selama di panti mereka tidak boleh pacaran. Ini untuk menjaga nama baik panti,” ujar pastor yang ditahbiskan pada 15 Agustus 2013 ini.

Sebelum Romo Liberto, para pastor pendamping panti merangkap sebagai pastor paroki dan Ketua Yayasan Xaverius. Praktis, proses pendampingan tidak terlampau intens. Para karyawan yang bekerja di dapur dan kebun wajib mengajari anak-anak berlatih bekerja.

Untuk menghidupi panti ini, kata Romo Liberto, bantuan uang atau barang berasal dari Yayasan Dharmais, dinas sosial, serta masyarakat (terutama umat Katolik) baik perorangan maupun kelompok. Bantuan itu belum mencukupi kebutuhan panti, selebihnya setiap bulan Keuskupan Agung Palembang memberikan subsidi. Mereka juga harus bekerja dan hidup sederhana. Di lingkungan PARY mereka berkebun buah naga, karet, sayur-sayuran, dan mengelola kolam ikan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*