Artikel Terbaru

Jalan Panjang Stasi St Polikarpus Grogol

Jalan Panjang Stasi St Polikarpus Grogol
5 (100%) 1 vote

Salah satu umat stasi bernama Matius Sanusi Satyananda dan Monica Tuti Sutedja membeli sebidang tanah di Jalan Dr. Nurdin III No. 3, Grogol, Jakarta Barat tahun 2002. Kemudian Sanuni dan keluarga menemui Pastor Paroki Grogol kala itu Romo Arcadius Setitit MSC. Mereka mengutarakan keinginan untuk menyumbangkan tanah tersebut untuk pembangunan gereja. Romo Arcadius menyambut baik niat tersebut. Proses perizinan pembangunan gereja stasi pun dimulai. Namun izin yang ditunggu tak kunjung diperoleh.

Saat Romo Yohanes Purwanto MSC bertugas sebagai Kepala Paroki Grogol pada tahun 2007, izin untuk merenovasi gedung Gereja St Polikarpus kembali diajukan. Usaha ini sempat menuai kendala dari pihak pemerintah. “Waktu itu permohonan saya ditolak dengan beberapa usulan. Salah satunya bangunan yang hendak kami bangun harus memiliki lahan parkir untuk umat, serta harus nampak seperti gereja jika dipandang dari luar,” ujar Romo Purwanto saat ditemui di Gereja Bunda Hati Kudus Kemakmuran, Jakarta.

Mendapat masukan tersebut, Romo Purwanto dan panitia pembangunan gereja segera memodifikasi gambar berdasarkan usulan-usulan dari pemerintah. Lantai dasar disulap menjadi lahan parkir, ruang gereja berada di lantai dua dan tiga. Sementara lantai empat difungsikan sebagai aula. Akhirnya rancangan bangunan baru itu diterima dan izin mendirikan bangunan Gereja St Polikarpus keluar dengan No.13382/IMB/2008. Maka proses pembangunan Gereja Stasi St Polikarpus pun dimulai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan pada 14 Juni 2009.

Semula target pembangunan Gereja St Polikarpus diperkirakan selesai dalam jangka waktu 18 bulan. Tapi pembangunan baru benar-benar selesai 22 bulan kemudian. Ketika Misa Natal Desember 2010, itulah kali pertama perayaan Ekaristi Natal digelar di gedung gereja yang baru. Misa saat itu dipimpin Romo Purwanto.

Akhirnya, bangunan baru Gereja Stasi St Polikarpus diresmikan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo pada 10 April 2011. Walikota Jakarta Barat kala itu Drs. H. Burhanuddin juga hadir dalam acara peresmian. Gereja tersebut berdiri di atas lahan seluas 600 meter persegi. Daya tampung gereja sekitar 600 umat untuk setiap kali Misa.

Diminati umat
Desain interior Gereja St Polikarpus terbilang menarik. Di bagian atap tepat di atas altar terdapat kubah cukup besar dengan lukisan kisah penciptaan. Sedikit bergeser ke tengah ada lukisan simbol tujuh sakramen. Ketika lampu interior gereja dinyalakan, maka akan memantulkan gambar refleksi ke lantai sehingga kesan artistik interior gereja ini semakin tegas.

Tidak mengherankan jika Gereja St Polikarpus menjadi salah satu tempat yang paling diminati umat untuk menggelar pemberkatan pernikahan. Apalagi pada bulan-bulan, seperti Juni hingga Oktober. Tidak jarang pada hari Sabtu terdapat dua pasangan pengantin yang menikah di gereja ini. Sedangkan pada hari Minggu bisa sampai tiga pasangan pengantin yang memilih gereja ini untuk saling menerimakan Sakramen Pernikahan. “Bukan hanya umat paroki atau stasi sini saja, ada juga dari paroki-paroki lain. Umat dari Bogor juga ada yang memilih menikah di sini,” ucap Catharian L. Lenny

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*