Artikel Terbaru

Bruder Andre Love OSB: Tato Perjuangan dan Panggilan

Bruder Andre Love OSB: Tato Perjuangan dan Panggilan
1 (20%) 2 votes

Saat Bobby tiba di Biara Mount Angel, para rahib OSB sedang mengadakan retret panggilan. Peserta retret dan rahib di sana semula menduga, Bobby datang sebagai salah satu peserta retret. Mereka kaget bukan kepalang, begitu Bobby memarkir motor, melepaskan helm dan jaket kulitnya.

Penampilannya nyentrik nian. Model rambut Bobby dreadlocks mohawk, cupingnya bertindik, dan tato menghiasi leher serta seluruh tangannya. Penampil annya amat jauh dari kebiasaan para rahib, bahkan para peserta retret yang hadir. “Cukup lucu pengalaman saat itu,” katanya mengenang.

Meski gayanya mirip berandalan, Abbas Vincent Trujillo OSB enggan menstigma Bobby buruk. “Kami menyambut setiap orang yang datang ke sini untuk retret,” ujar Prior Biara Mount Angel kala itu. “Ia datang untuk mengetahui situasi kami di sini, begitu pula sebaliknya. Jadi, proses perkenalan berjalan dua arah,” imbuhnya.

Berhasil menyambangi biara dan ikut retret, Bobby tak sekadar mengetahui gambar yang diinginkan temannya. Pengetahuan kekatolikannya kian bertambah. Ia juga terkesan dan penasaran dengan pola hidup para rahib. Tak pelak, tiap akhir pekan, dengan motor, ia pergi ke Biara Mount Angel.

Titik Balik
Perjalanan Bobby penuh warna-warni. Selama 25 tahun, pria yang lahir dalam keluarga Katolik ini justru meninggalkan Gereja. Ia menjadi orang bebas, bertualang ke sana kemari mengejar nikmat dan kesenangan. Lepas dari iman masa kecilnya, Bobby berkenalan dengan berbagai keyakinan. “Saya melihat agama lebih sebagai penghalang, bukan bantuan,” ungkapnya kepadawww.aleteia.org.

Sejumlah kemalangan kian membuat hidupnya limbung. Truknya dicuri. Surat-surat berharga hilang. Tabungannya pun raib. Litani kesialan itu menjerumuskannya ke lembah hitam. Beban hidup semakin menghimpitnya. Namun ada sebuah peristiwa yang menghantam kesadarannya. Pengalaman itu menjadi titik balik hidupnya.

Suatu ketika, Bobby berada di dalam bus. Dari kaca jendela, ia menyaksikan pemandangan di luar. Saat melintas di suatu tempat, ia melihat seorang perempuan tua dengan tubuh yang terlihat ringkih. Namun anehnya, perempuan itu ngoyo. Fisik dan usia perempuan itu tak sebanding dengan barang bawaan di pundaknya. Perempuan tua itu terjerembab di tanah. Barang bawaannya menindih tubuhnya yang telah layu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*