Artikel Terbaru

St Oliver Plunkett: Uskup Agung, Martir Irlandia

St Oliver Plunkett: Uskup Agung, Martir Irlandia
Mohon Beri Bintang

Melihat kesalehan hidup Oliver, Pater Rektor, Pierfrancesco Scrampi merekomendasikannya untuk melanjutkan studi di Roma tahun 1647. Baru beberapa bulan di Roma, kabar buruk beredar. Terjadi Perang Konfederasi Irlandia (1641-1653), konflik etnis-religius antara Irlandia-Katolik, Inggris-Anglikan, dan Skotland-Protestan. Perang ini bermula dari penaklukan pasukan Parlemen Inggris atas Irlandia, dipimpin Oliver Cromwell (1599-1658). Saat itu, sebagian besar Irlandia dibawah kendali Konfederasi Katolik Irlandia.

Selama pendudukan, Cromwell menetapkan beberapa hukum pidana untuk orang-orang Katolik. Cromwell menjadi figur yang amat dibenci orang Irlandia, termasuk keluarga Oliver. Perang ini menyebabkan kelaparan yang diperparah dengan wabah pes.

Takhta Armagh
Situasi perang membuat Oliver tak mungkin kembali ke Irlandia. Ia menerima tahbisan imam tahun 1654, dan terus berkarya di Roma. Tahun 1657, ia berhasil menyelesaikan studi teologi, lalu mengajar di Kolese Propaganda Fide di Roma. Saat Kongres Propaganda Fide, 9 Juli 1669, sebuah keputusan mengejutkan. Oliver menjadi kandidat Uskup Agung Armagh, Irlandia Utara. Keputusan itu disetujui Bapa Suci dan Oliver secara resmi diangkat menjadi Uskup Agung Armagh oleh Paus Klemens IX (1600-1669) pada 3 Agustus 1669. Ia ditahbiskan pada 1 Desember 1669 oleh Uskup Gent, Belgia, Mgr Eugenius Albertus d’Allamont (1625-1673).

Pengangkatan ini membawanya pulang kampung. Irlandia kala itu diwarnai aneka gerakan denominasi Gereja. Ia mulai membuat program pemulihan pertama dengan Gereja Inggris. Ia membangun sekolah dan seminari, serta mengajak para pemimpin Gereja untuk mengusahakan toleransi.

Mgr Oliver mengatakan, “Sebagai gembala, kadang kita mabuk kedudukan. Karena itu, mari menghapus cacat kita sebagai pelayan. Itu akan membuat kita suci.” Pada 1568, Cromwell meninggal dan digantikan anak nya, Richard Cromwell (1626-1712). Sayang, Richard tak memiliki kecakapan seperti ayahnya. Terjadi kekacauan hingga ber akhir dengan dibentuknya parlemen baru melalui pemilihan bebas.

Hasilnya, Charles II ditarik dari pembuangan di Perancis untuk menjadi raja. Setelah memerintah, ia sangat cekatan membuat restorasi. Salah satunya adalah Deklarasi Breda, 4 April 1660. Deklarasi ini dikeluarkan Charles II pasca kematian ayahnya, Charles I pada 30 Januari 1649. Parlemen meminta Charles II, seorang anti Katolik menjadi Raja Inggris.

Gereja Katolik melihat peluang untuk mendirikan Kolese dibawah asuhan Jesuit di Drogheda, Irlandia tahun 1670. Selang setahun, 150 siswa masuk, sekitar 40 di antaranya beragama Protestan. Sekolah ini juga menjadi sekolah terpadu pertama di Irlandia. Sedikitnya 49 ribu orang menjadi Katolik dalam empat tahun pelayanan Mgr Oliver.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*