Artikel Terbaru

Ad Maiorem Dei Gloriam

Ad Maiorem Dei Gloriam
Mohon Beri Bintang

Keenam, membara dalam Roh. Seperti kita, Iñigo hidup dan berurusan dengan dunia, amat konkret dan materiil. Lalu ia diingatkan, Sang Spirit melingkupi segala dan membimbingnya. Tak ada kata terucap dan langkah terayun tanpa Roh hadir. Ia sadar, Roh tidak abstrak, tapi hadir nyata dalam manusia. Apakah kita selalu ingat Roh dalam manusia harian; atau justru membenamkan diri dalam keabstrakan doa; atau tenggelam dalam lautan materi dan lupa Tuhan; bahkan menjadikan diri kita Tuhan?

Ketujuh, membara bersama. Iñigo–seperti kita–mikir-diri; kadang menipu diri dengan berkata, “Aku bisa sendiri”. Lupa bahwa cinta diri hanya konkret dalam kesatuan dengan cinta-sesama. Ia bertobat dengan mengabdi Raja Kristus dan membangun komunitas pelayanan. Apakah bara hati kita mendorong mengabdi Tuhan dalam sesama, “menolong jiwa-jiwa”, menjadi man for others? Iñigo mengajak kita bekerjasama dalam companionship. Kerjasama adalah Latihan Rohani. Apakah kita melihat kerjasama sebagai metode kerja, atau alat cari kuasa, atau Latihan Rohani untuk menguduskan persaudaraan?

Kedelapan, kontemplasi membara dalam aksi. Iñigo terpukau mengkontemplasikan dunia, istana, kemewahan, sukaria. Usai bertobat, ia mengkontemplasikan Allah yang sudi hadir di antara manusia, dalam rupa indrawi. Hidupnya, “kontemplasi dalam aksi”. Ia membaca hadirnya Tuhan dalam aksi harian. Apakah kita memisah-misahkan doa dengan aksi harian? Lenyapkah Tuhan dalam kesibukan materiil?

Kesembilan, sintesis hidup dalam bara-bakti. Iñigo mengajak kita ingat Tuhan hingga detik sebelum lelap tidur. Di saat menoleh hari, ia melihatnya sebagai Latihan Rohani, ingat akan kebaikan Allah. Mari memeriksa batin, “Apa yang sudah kulakukan bagi Kristus? Apa yang sedang kulakukan bagi Kristus? Apa yang harus kulakukan bagi Kristus? Apa yang akan kukatakan dan kulakukan?”

B.S. Mardiatmadja SJ

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*