Artikel Terbaru

Pesona Indonesia di Panggung WYD

Pesona Indonesia di Panggung WYD
1 (20%) 1 vote

Selain retret, ada beberapa pertemuan persiapan jelang keberangkatan. Sarana komunikasi seperti Whatsapp juga digunakan untuk membangun dialog antara peserta. Sementara untuk kontingen dari daerah, mereka mempersiapkan sendiri segala urusan tetapi tetap berkordinasi dengan Komkep KWI.

Bagi anak muda yang mendaftar sebagai volunteer, mereka memiliki formulir pendaftaran khusus. Setiap volunteer akan berkoordinasi langsung dengan panitia WYD di Polandia. Tetapi volunteer memiliki hak khusus. Mereka hanya membayar setengah harga akomodasi. Di Krakow, mereka bertugas membantu panitia sebagai pemandu, atau keamanan pada setiap acara hingga penjemputan di bandara.

WYD sebagai peziarahan kaum muda, kata Romo Hary, perlu dimaknai sebagai ziarah iman bersama anak muda dari semua benua. Retret dan persiapan lainnya merupakan proses awal perziarahan itu. Di puncak WYD, di mana Sri Paus hadir memimpin misa diharapkan menjadi awal baru bagi Orang Muda memaknai ziarah di bumi ini.

Sementara anak-anak Vitra dari Vincentius Putra digembleng oleh pelatih jelang keberangkatan mereka. Kata Romo Dedie, mereka adalah anak-anak yang memang dilatih sejak awal untuk musik Kolintang. Praktis, persiapan mereka ke Polandia hanya latihan rutin yang wajar. Keterlibatan Vitra menjadi catatan khusus bagi kontingen Indonesia. Pertama kali dalam sejarah, kontingen Indonesia melibatkan anak-anak panti.

Buah Ziarah
Verby mengaku sebagai orang muda dari negara minoritas Katolik, ada rasa bangga bisa menjadi bagian dari WYD. Kunjungan selama kurang lebih dua minggu di Polandia membuka matanya akan kekayaan agama Katolik. “Saya mengikuti WYD Madrid 2011, Rio-Brasil 2013, dan kini Polandia 2016,” ujar alumni Teknik Elektro Unika Atma Jaya Jakarta ini.

Ratusan bendera dari berbagai negara berkibar di Polandia. Kata Verby, ini menunjukan betapa besar dan mondialnya agama Katolik itu. Verby bersyukur, bisa berkumpul bersama saudara seiman dari seluruh ujung bumi. “Di sana kami bergaul seperti saudara lama. Kendala bahasa tak jadi soal saat kami tahu bahwa kami Katolik dan kasih yang menjadi pegangan kami.”

Verby saat ditemui HIDUP jelang keberangkatan ke Polandia pertengahan Juli silam mengatakan, bahwa tujuan ziarah ini adalah menimba rahmat kerahiman Ilahi melalui pertemuan sesama peziarah muda. Karena itu, kembali ke Indonesia merupakan perjalanan kembali untuk membawa sukacita WYD bagi teman-teman di Indonesia. “Pasti, kami melalui komunitas akan terus membagikan sukacita ini kepada teman-teman,” ungkap anggota komunitas Indonesian Pilgrim ini.

Segendang sepenarian dengan Verby, Stephen Basuki dari John Paul Youth Foundation juga mengungkapkan akan membagikan pengalaman dan nilai-nilai yang ia timba di WYD. “Ini semoga akan menuntun kita semakin mendalami panggilan kita sebagai orang muda Katolik dalam keseharian,” ujarnya.

Sementara Prishella Pualamsjah dari Komkep KAJ menekankan soal harapan. Baginya, momen WYD merupakan saat untuk memperbaharui arti hidupnya sebagai sebuah ziarah. Dalam ziarah itu ia tidak sendirian tetapi menyatu dalam persaudaraan dengan kaum muda lainnya. “Ini bukan soal euforia tetapi juga mengubah hidup kami, memperdalam iman kami, dan semakin menyatukan kami di tengah keberagaman yang ada.”

Romo Hary juga menjelaskan bahwa pengalaman dan refleksi WYD memang akan dibagikan kepada semua orang muda Katolik di Indonesia. Para peserta nantinya akan menuliskan refleksi dan dikumpulkan. Rencananya, Komkep KWI akan membukukan refleksi itu dan bisa disebarkan kepada kaum muda dalam ziarah kaum muda lainnya, misal dalam ziarah Indonesian Youth Day yang akan datang. “Semangatnya dari orang muda, untuk orang muda; bahwa mereka diutus untuk meneguhkan satu sama lain.”

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*