Artikel Terbaru

Menabung Sampah, Mengubah Perilaku

Menabung Sampah, Mengubah Perilaku
1 (20%) 1 vote

Eria membeberkan, ada 85 nasabah Bank Sampah dari Gereja Rawamangun. Sekali datang ke gereja, Bank Sampah mengangkut sekitar 6.000 kilogram. Sementara dari seluruh Jakarta Timur, Bank Sampah bisa memboyong sekitar 74.000 kilogram dalam satu hari.

Nasabah Bank Sampah tak melulu perorangan, bisa pula kelompok. Namun hanya satu nama yang tertera dalam buku tabungan Bank Sampah sebagai perwakilan. Hesti misal, mewakili Lingkungan Felicia. Hesti bersama umat lingkungan mengumpulkan dan memilah sampah.

Sampah yang terkumpul di rumah-rumah umat, ia kumpulkan dan bersihkan bersama keluarganya. Hesti lalu membawanya ke Bank Sampah. Selama empat bulan, uang tabungan Lingkungan Felicia di Bank Sampah sebesar Rp.293 ribu. Uang itu akan digunakan untuk program lingkungan hidup di lingkungannya, seperti membuat pupuk, dan membeli bibit tanaman. “Meski nilainya kecil, tapi ada rasa kebersamaan, kemauan, dan tekad kuat umat dalam mengumpulkan dan memilah sampah,” ujarnya.

Hal itu memecut semangatnya untuk mengumpulkan sampah di lingkungan. Hesti mengaku, umat sebetulnya sadar untuk menaruh, mengumpulkan, dan memilah sampah. Tapi banyak yang belum tahu ke mana sampah yang telah dipilah bisa disalurkan.

Manfaat Bank Sampah juga dirasakan Alfred Yohanes Sumardi dan Agnes Lany Herawati. Tabungan di Bank Sampah miliknya kini Rp 563 ribu, yang akan dipakai untuk kegiatan karitatif Lingkungan Lidwina. Salah satunya kunjungan ke Panti Wreda di Jakarta Pusat.

Tujuan Utama
Kepala Paroki Rawamangun, Romo Antonius Suyata MSF bersyukur kehadiran Bank Sampah ditanggapi sangat baik oleh umat dan pengurus Seksi Lingkungan Hidup di lingkungan. Gereja bisa menjadi agen perubahan, salah satunya menciptakan lingkungan bersih.

Menurut Romo Toni, uang atau berkah yang diterima dari Bank Sampah hanyalah pancingan. Tujuan utamanya adalah mewujudkan kebersihan lingkungan. Tanggung jawab itu harus dibiasakan dalam rutinitas harian sehingga anak-anak pun bisa termotivasi. Kegiatan ini bisa menjadi salah satu usaha menanamkan nilai cinta lingkungan dalam diri mereka.

Imam yang ditahbiskan di Yogyakarta, 20 Juli 1999 itu merencanakan, kelak Bank Sampah tak lagi ngetem di halaman belakang, tapi di halaman depan gereja. Tujuannya, warga sekitar tak sungkan untuk bergabung dengan Bank Sampah di Gereja Rawamangun.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*