Artikel Terbaru

Damian de Veuster Alvin: Penggagas Wonosobo Costum Carnival

Damian de Veuster Alvin: Penggagas Wonosobo Costum Carnival
1 (20%) 1 vote

Setelah lulus SMP, Alvin melanjutkan pendidikan di SMK Negeri I Wonosobo. Tapi sayang, ia mengenyam pendidikan ini hanya enam bulan. Ia putus sekolah, lantaran tak memiliki biaya sekolah. Krisis ekonomi medio 1998, menjadi awal kebangkrutan usaha yang dikelola sang ibunda. Apalagi kios di pasar milik sang ibu hangus dilalap “si jago merah”. Kondisi keuangan keluarga Alvin pun kacau balau. Mereka hanya mengandalkan penghasilan dari sang ayah yang bekerja sebagai petugas tata usaha di SMK Negeri I Wonosobo.

Setelah putus sekolah, Alvin pontang-panting mencari pekerjaan. “Waktu itu saya mikir, saya ini sudah putus sekolah, mau ngapain lagi, mending kerja saja,” katanya mengenang.

Sang ibu iba melihat putranya bekerja. Ia pun menawari Alvin agar melanjutkan pendidikan di SMK Pius X Magelang, Jawa Tengah. Mendapat tawaran dari ibunya, Alvin menerima dengan senang hati.

Saat masuk ke SMK itu, Alvin masuk ke jurusan tata busana. Menggambar pola busana, bagi Alvin yang memiliki bakat menggambar, tak begitu merepotkan. Tapi menjahit busana adalah hal yang merepotkan bagi Alvin. Namun, seorang guru, Brigita Rismiasih terus mendorong Alvin agar bisa menjahit. Bahkan Brigita Rismiasih, memicu Alvin agar mencari pekerjaan sambilan untuk menambah uang saku.

Dari lowongan pekerjaan yang ditempel di majalah dinding sekolah, Alvin pun melamar kerja ke seorang desainer Jonathan Titi Santoso. Alvin jujur kepada Jonathan bahwa dia masih sekolah, belum banyak menguasai mengenai tata busana. Namun, Jonathan dengan senang hati menerima Alvin. Ia pun mulai bekerja sepulang sekolah hingga pukul 20.00. Lantaran diperlakukan seperti karyawan yang lain, Alvin juga harus kerja lembur bila pekerjaan menumpuk. Akibatnya, Alvin sering bangun kesiangan dan terlambat masuk sekolah. “Saya sering disuruh mengepel dan membersihkan WC sekolah,” kenang Alvin.

Dari bekerja di tempat Jonathan, Alvin menerima penghasilan Rp 165.000 per bulan. Setelah tahun kedua, penghasilannya naik menjadi Rp 300.000. Selama bekerja, kemampuan Alvin dalam hal tata busana kian bertambah. Maka, ketika kelas 2, Alvin diajukan mengikuti perlombaan keterampilan siswa tingkat propinsi. Ia pun menyabet juara pertama.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*