Artikel Terbaru

Pastoral Keluarga Muda di “Pinggiran” Jakarta

Pastoral Keluarga Muda di “Pinggiran” Jakarta
1 (20%) 1 vote

Karena itu, Romo Kesar berharap agar tiap keluarga mau membuka diri kepada SKK, romo paroki atau sesama umat lingkungan. Paroki menunjang niat baik ini dengan menyediakan pembekalan untuk setiap keluarga melalui seminar, talk show, retret, dll. “Tetapi pilihan tetap berada di tangan masing-masing keluarga. Keluarga-keluarga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk semakin mematangkan diri,” ujar Romo Kesar.

Apalagi sejak satu tahun terakhir, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mencanangkan pembentukan SKK hingga ke tingkat Lingkungan. SKK Lingkungan ini berfungsi sebagai penghubung antara keluarga dengan SKK paroki dan atau SKK dan romo. Saat ini, Paroki Harapan Indah sudah mempunyai SKK di 17 lingkungan. Lingkungan di paroki ini ada 54 dan tergabung ke dalam 13 wilayah.

Berbeda dengan Paroki Harapan Indah, pastoral keluarga muda di Paroki St Bartolomeus Taman Galaxy, Bekasi, masih belum optimal. Kepala Paroki Taman Galaxy Romo Thomas Bani SVD mengakui, kegiatan SKK di paroki yang ia gembalakan kurang berjalan sebagaimana mestinya. “Ini karena anggota SKK masih sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga belum punya waktu yang luang untuk mengembangkan pastoral keluarga,” ujarnya.

Selama ini, kata Romo Thomas, hanya kegiatan-kegiatan biasa, semisal Kursus Orangtua Katolik (Kontak) dan acara family gathering di setiap lingkungan. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut, SKK diharapkan dapat bertemu langsung dengan keluarga-keluarga dan semakin mengenal mereka lebih jauh.

Persiapan Nikah
Beralih ke Tangerang, di Paroki St Agustinus Karawaci, Tangerang, mayoritas keluarga berada dalam usia pernikahan 6-15 tahun. Ketua SKK Paroki St Agustinus Tarsisius Bambang Purwanto menjelaskan, dua tahun belakangan, orang muda yang ikut persiapan perkawinan di paroki ini kebanyakan dari tempat lain.

Di paroki ini, KPP diadakan empat kali dalam setahun. Tiap gelaran KPP, ada sekitar 25 pasangan yang mengikuti KPP. Dari jumlah tersebut hanya sekitar tujuh atau delapan pasang yang merupakan umat Paroki Karawaci. Sisanya datang dari paroki lain atau bahkan luar daerah, atau salah satu calon dari pasangan yang mengikuti kursus adalah umat paroki lain. “Dari tujuh sampai sembilan pasang itu, sekitar empat pasang yang hendak menikah beda Gereja atau beda agama. Jadi praktis, calon keluarga Katolik yang benar-benar dari paroki kami sangat sedikit,” ujar Bambang.

Karena itu, fokus pendampingan SKK Paroki Karawaci adalah kepada keluarga dengan usia pernikahan enam sampai 15 tahun. Misalkan pada April 2016 lalu, SKK mengadakan Kontak. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini ada 49 pasang. Usia pernikahan mereka di atas 10 tahun. “Semula target kami adalah keluarga-keluarga muda dengan usia nikah 0-5 tahun. Ternyata malah kebanyakan yang usia pernikahan di atas 10 tahun,” kata Bambang. Namun Bambang tak berkecil hati. Ia justru senang karena dari keluarga yang ikut diharapkan mereka akan menjadi SKK di tingkat Lingkungan.

Kondisi serupa juga ada di Paroki Santa Maria Regina (Sanmare) Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Kata Ketua SKK Paroki Sanmare Anastasia Yuliawati, mayoritas keluarga di paroki ini juga ada di rentang usia pernikahan antara 10-20 tahun. Jadi fokus perhatian SKK adalah bagaimana mendampingi keluarga-keluarga yang berada di usia pernikahan “remaja” ini. Untuk KPP, Paroki Sanmare biasa menggelar sebanyak dua kali dalam satu tahun. “Pada bulan Mei lalu, peserta KPP ada 16 pasang, tambah satu orang. Yang satu orang ini pasangannya ikut KPP di Manado,” kata Yuli yang baru empat bulan ditunjuk sebagai Ketua SKK Paroki Sanmare.

Tantangan Keluarga
Bambang menjelaskan, tantangan terbesar keluarga di Paroki St Agustinus adalah soal kesetiaan. Dari beberapa keluhan yang masuk, kesetiaan antara suami dan istri menjadi soal yang sering muncul. “Ini biasanya dialami oleh keluarga dengan usia pernikahan di atas enam tahun. Ada suami yang pergi tidak pulang-pulang,” ujar Bambang sambil tertawa. Sementara untuk usia pernikahan di bawah lima tahun, keluhan yang muncul adalah perubahan sikap dan perilaku. Pada masa pacaran, ada sikap dan perilaku tertentu yang tidak muncul. Baru kelihatan setelah menikah. Perubahan sikap ini membuat suami istri kadang salah paham, sehingga menyebabkan rumah tangga tidak harmonis.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*