Artikel Terbaru

Pastoral Keluarga Muda di “Pinggiran” Jakarta

Pastoral Keluarga Muda di “Pinggiran” Jakarta
1 (20%) 1 vote

Meski umat paroki kebanyakan berprofesi sebagai buruh pabrik, persoalan ekonomi justru agak kurang. Bambang menjelaskan, memang ada juga kasus-kasus tertentu yang terkait dengan finansial keluarga. Tetapi tidak ada keluarga yang sampai retak karena alasan ekonomi.

Permasalahan ekonomi keluarga justru menguat di Paroki Sanmare. Menurut Yuli, dengan tuntutan biaya hidup yang semakin tinggi, mau tidak mau penghasilan suami dan atau istri juga harus bisa menyeimbangkan kebutuhan keluarga.

Pola mendidik anak dalam keluarga juga mesti ditingkatkan lagi. Yuli mengamini bahwa tanggung jawab mengarahkan orang muda bukan saja tanggung jawab keluarga, tetapi juga tanggung jawab paroki. Karena itu, pendampingan terhadap kaum muda harus menjadi perhatian paroki. Organisasi atau komunitas-komunitas orang muda di tingkat paroki mesti diperkuat lagi sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi orang muda. “Dengan begitu kita membantu mereka juga untuk menemukan pasangan hidup yang seiman. Jadi pendampingan mesti berkesinambungan dari sebelum menikah, menikah, dan pasca menikah,” kata Yuli yang menjadi Ketua SKK Sanmare bersama suami, Robertus Budi Ardiyanto.

Menyentuh Keluarga
Agar pastoral keluarga tepat sasaran, dua paroki ini juga membentuk SKK di tingkat Lingkungan. Sekarang, Paroki St Agustinus mempunyai 54 SKK dari 94 lingkungan. Menurut Bambang, SKK di tingkat Lingkungan merupakan perpanjangan tangan paroki untuk sampai kepada keluarga-keluarga. Tugas mereka adalah menerima masukan dan keluhan-keluhan keluarga untuk disampaikan ke SKK paroki. Nantinya dari masukan-masukan itulah SKK merancang kegiatan yang bisa menjawab kebutuhan umat.

Di Paroki Sanmare, SKK Lingkungan ada dalam bentuk lain. Sebelum anjuran dari KAJ itu, paroki sudah memiliki tim keluarga yang ada di tiap wilayah, dan juga lingkungan. Paroki Sanmare terdiri dari delapan wilayah dan 33 lingkungan. Sejak tahun kemarin, Romo Paroki Sanmare mempunyai agenda kunjungan rutin ke setiap keluarga. Tiap sore hari, dua romo yang bertugas di paroki ini berkeliling dari rumah ke rumah. “Lingkungan saya kebagian tiap Rabu sore antara pukul 17.00 hingga 23.00 WIB,” ujar Yuli.

Ia menjelaskan, tugas Tim Keluarga adalah mendampingi romo-romo saat kunjungan. Tiap kali kunjungan, sekitar tujuh sampai delapan rumah yang didatangi. Tiap keluarga disediakan waktu 30 menit. “Yang terpenting adalah romo bisa datang dan bertemu langsung dengan keluarga. Diharapkan bahwa anggota keluarga sudah berkumpul sehingga bisa saling berbagi cerita,” kata Yuli. Kalau ada keluarga yang butuh waktu lebih panjang untuk berkonsultasi dengan romo, mereka diminta menyampaikan lewat Tim Keluarga. Tim akan menginformasikan kepada romo sehingga bisa mengatur jadwal pertemuan lanjutan.

Yuli melihat, sejak program kunjungan ini bergulir banyak keluarga yang dulu mungkin kurang aktif, sekarang menjadi lebih aktif menggereja. Anaknya dulu tidak ikut OMK, sekarang sudah mulai bergabung.

Bambang dan Yuli mengaku, tidak pernah mendapat pembekalan mengenai pendampingan keluarga. Bambang tertarik menangani keluarga karena prihatin dengan pola KPP yang nampak seperti kelas di sekolah. “Guru mengajar di kelas dan murid mendengarkan.” Padahal menurutnya, simulasi dan diskusi seharusnya lebih diutamakan dalam KPP atau pendampingan keluarga.

“Karena di situlah kita bisa saling mendengar pengalaman dari keluarga-keluarga sehingga bisa sama-sama mencari solusi,” ujar Bambang. Ia sudah menjabat sebagai Ketua SKK Paroki St Agustinus selama sembilan tahun atau tiga periode. Sementara Yuli, baru dua tahun terlibat. Semula ia hanya ikut membantu SKK saja. Pengalamannya menjadi Koordinator Marriage Encounter (ME) wilayah Bintaro (Paroki Sanmare dan Paroki St Matius Penginjil) selama 13 tahun mengispirasinya untuk bergabung dengan SKK paroki. Saat KPP 2015, ia menjadi salah satu orang yang membantu. April lalu, ia ditunjuk menjadi Ketua SKK.

Pendampingan keluarga, terutama keluarga muda menjadi medan kerasulan baru yang mesti terus digumuli, terutama oleh paroki-paroki yang berada di daerah pinggiran kota. Gereja mesti hadir dalam suka dan duka, kegembiraan dan kecemasan keluarga.

Christophorus Marimin/Stefanus P. Elu

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*