Artikel Terbaru

KAJ Radioline: Pewartaan di Era Tanpa Batas

KAJ Radioline: Pewartaan di Era Tanpa Batas
4.3 (86.67%) 6 votes

LDD juga membahas secara detail cerita hidup pribadi dan sharing pelayanan rohaniwan- rohaniwati. Misal seorang romo yang memberi perhatian kepada dunia kaum buruh. Ia akan membahas alasan ditugaskan atau terpanggil melayani buruh. Melalui LDD juga, umat bisa mengetahui kisah dan kehidupan di seminari dan biara. “Jadi, selain informasi detail juga memunculkan cerita bahwa panggilan Tuhan bisa menyapa siapa saja,” jelas Atik.

Setiap Rabu, KAJ Radioline memiliki program Tinta Emas. Program ini merupakan kerja sama KAJ Radioline dengan Penerbit Obor. Lewat Tinta Emas, pendengar bisa mengetahui isi sebuah buku, penulis, ide, dan motivasi menulis buku.

Sementara setiap Kamis, Majalah HIDUP mendapatkan giliran menyajikan editorial berupa informasi dan isi yang akan diterbitkan dalam edisi terbaru. Secara bergantian, HIDUP akan mengirim perwakilan untuk menyajikan materi-materi Majalah HIDUP edisi terbaru.

Setiap Jumat, pendengar bisa menikmati Mozaik Keluarga Katolik. Siaran ini bercerita seputar kehidupan keluarga. Mela lui siaran ini disajikan berbagai masalah dalam keluarga disertai solusinya. Selain itu juga beberapa pengetahuan penting, misal tentang tumbuh kembang balita dan anak.

Sedangkan setiap Sabtu, KAJ Radioline menjadikan hari itu sebagai “hari ekologis” dan ditampilkan program Peduli Bumi. Program ini berlatar belakang seruan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’. Siaran ini bertujuan membangkitkan kesadaran pendengar agar ikut serta dalam merawat bumi dan melakukan silih ekologis sebagai
bentuk pertobatan ekologis.

Dalam setiap sesi program selalu ada sesi lagu selama satu jam. Lagu tak hanya untuk variasi siaran, tetapi juga sebagai media pewartaan. Karena itu, KAJ Radioline memiliki program Sentuhan Nada pada hari Minggu. Penyanyi dan pencipta lagu akan hadir dan berbagi cerita kisah latar pembuatan sebuah lagu.

Sejauh ini, pendengar KAJ Radioline mengalami grafik menanjak. Dari data yang dihimpun, bahkan ada pendengar
tetap di luar negeri mulai dari Australia, Singapura, Jepang, Perancis hingga Kanada dan negara yang lain.

Menyisihkan Waktu
KAJ Radioline bisa dikatakan mewakili semangat 40 orang penyiarnya. Semua bekerja secara sukarela dengan berbagi waktu antara kesibukan kerja atau kuliah. “Kesukarelaan” menjadi syarat utama menjadi penyiar KAJ Radioline.

Jika syarat sukarela dipenuhi, calon penyiar baru akan mengikuti tes dan latihan. Syaratnya gampang-gampang susah. Para penyiar harus memiliki suara dengan artikulasi yang bagus. Rata-rata penyiar memiliki latar belakang pernah menjadi lektor dan lektris di paroki masing-masing. Ada juga yang pernah menjadi penyiar radio dan televisi. Jeannetta pernah menjadi pembawa acara Mimbar Agama Katolik di beberapa stasiun televisi. Sementara
Atik pernah sebagai penyiar radio Prambors dan MC di pelbagai kegiatan.

Banyak orang muda juga menjadi awak KAJ Radioline. Stella Anjani misalnya. Sejak SMP, Stella suka mendengarkan radio. Suatu hari, ibunya mendapatkan broadcast soal Komsos KAJ yang sedang membutuhkan
volunteer penyiar. Stella pun mendaftar dan diterima. Menjadi volunteer, sama sekali tak menjadi beban bagi dia. Ia dan teman-teman muda lain memilih untuk rekaman pada jam malam. “Kita rekaman saat after office hours, jadi biar pulang kerja gak bengong, tapi ada kegiatan,” ujar gadis berusia 24 tahun ini.

Bagi Stella, pelayanan di KAJ Radioline merupakan bentuk keterlibatan dalam pelayanan Gereja. Sejak SMP, ia sudah aktif menjadi lektris. Saat kuliah, ia juga aktif berkegiatan di Komunitas Mahasiswa Katolik. “Iya, saya pikir, waktu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melayani atau mengabdi Gereja,” ujarnya.

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*