Artikel Terbaru

Hukum Dasar Besi Toleransi

[google image]
Hukum Dasar Besi Toleransi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Komentar Ustaz Syaron Siraid sesudah kerusuhan di Tanjungbalai: “Kerusuhan mulai dari adanya sikap intoleran warga etnis Cina yang tidak menghargai adanya suara adzan,” memuat pelajaran penting bagi suatu minoritas. Yang diungkapkannya tak lain adalah hukum dasar besi segala toleransi.

Dirumus lebih umum hukum itu berbunyi, minoritas hanya dapat mengharapkan toleransi dari pihak mayoritas apabila minoritas menerima (=bertoleransi terhadap) apa yang menjadi kebiasaan/adat/budaya/tradisi mayoritas.
Ini bukan hukum normatif; hukum mengenai yang semestinya, seharusnya, sebaiknya, seadilnya, melainkan hukum
keras kenyataan sosial-psikologis. Sama halnya kalau kita lewat sarang lebah. Menegaskan bahwa mereka tidak
berhak atau perlu menyerang kita karena kita tidak mau mengganggu mereka, tidak banyak gunanya. Kalau kita mengharapkan agar lebah-lebah itu tidak menyerang kita, kita harus membawa diri dengan cara yang oleh mereka tidak dirasakan sebagai gangguan.

Begitu pula mengatasnamakan hak-hak asasi manusia atau Pancasila untuk menuntut toleransi, tidak akan efektif kalau mayoritas merasa diganggu oleh minoritas. Itu berarti bahwa minoritas harus menerima mayoritas seadanya,
termasuk menerima diganggu kebiasaan-kebiasaan tertentu mayoritas. Tentu, kalau suasana sudah sangat baik, minoritas dapat membicarakan sesuatu yang mereka merasakan sebagai gangguan.

Hukum itu berlaku tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Segenap minoritas hanya dapat hidup dalam damai, apabila mayoritas memberi toleransi. Tetapi suatu mayoritas hanya akan memberi toleransi apabila minoritas menerima mayoritas, termasuk hal-hal yang barangkali mengganggu. Kalau begitu, maka perbedaan
minoritas dalam gaya hidup, keyakinan agama, selera estetis tidak akan menjadi halangan bagi terbangunnya hubungan akrab dengan mayoritas.

Karena itu adalah begitu penting minoritas dapat tenggang rasa, artinya membawa diri dengan cara yang tidak dirasakan secara provokatif oleh mayoritas. Kesadaran itu harus terus diingatkan. Hubungan minoritas-mayoritas
adalah peka dan memerlukan pemeliharaan. Contohnya adalah Kristianitas di Timur Tengah; sekitar sembilan
persen rakyat Mesir, Palestina, Siria dan Irak. Mereka hidup tanpa gangguan selama 1400 tahun di bawah penguasa-
penguasa Muslim; sayang, kekacauan menyeluruh di Timur Tengah sekarang mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok yang keras-fanatik-ekstremis, yang memang tidak mau toleran; radikalisme itu sekarang mengancam
masa depan kristianitas di Timur Tengah.

Suatu catatan, sering dikatakan, di Indonesia tak ada itu mayoritas-minoritas. Tetapi itu tentu nonsense! Itu benar dari sudut undang-undang dasar dan sistem hukum. Tetapi dalam semua komunikasi-dilihat dari sudut psikologis, antropologis, sosiologis, dan juga ekonomis- kesadaran akan hal mayoritas-minoritas selalu ada. Menyangkal bahwa dirinya minoritas adalah sindrom minoritas. Sikap yang tepat adalah kita sadar bahwa kita minoritas dan menerima kenyataan itu, serta berkomunikasi secara terbuka dan rileks. Terima kasih Pak ustaz atas peringatannya.

Franz Magnis-Suseno SJ

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*