Artikel Terbaru

Agnes Bemoe: Agnes dan Cerita Anak

Agnes Bemoe: Agnes dan Cerita Anak
1.5 (30%) 2 votes

Tugas baru diterima Agnes pada 1997, saat Yayasan Prayoga merintis pendirian sekolah baru, SMA St Tarcisius Dumai. Kala itu, ia belum genap berusia 30 tahun. Agnes ditunjuk menjadi kepala se ko lah termuda di Yayasan Prayoga. Bagi nya, penugasan ini bagaikan Daud yang merubuhkan Goliath dengan modal kerikil. Ia harus merintis sekolah agar mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain di Dumai.

Tak patah arang, kepala sekolah muda itu membakar semangat seluruh guru, karyawan, dan siswa. “Ketika berita kelulusan Ujian Nasional, nilai anak-anak asuhan saya lebih tinggi dari sekolah-sekolah negeri,” ujarnya. Pada 2007-2010, Agnes mendapat tugas baru sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum di SMP St Maria Pekanbaru. Perjalanan sebagai insan pendidik membuat Agnes seakan lupa dengan dunia menulis.

Cerita Anak
Bakat menulis yang terlanjur mengalir dalam dirinya tak begitu saja bisa terhapus. Suatu hari, Romo Surya Halim meminta Agnes mewakili Paroki St Yosef Duri dalam Pelatihan Jurnalistik di Keuskupan Padang. Agnes pun taat. Ia berangkat ke Padang mengikuti pelatihan.

Sejak saat itu, Agnes justru mendapat penugasan baru lagi, yaitu menjadi koresponden tetap Majalah Gema yang dikelola Keuskupan Padang. Lagi-lagi, Agnes hanyut dalam dunia yang pernah dihidupi pada masa lalu. Ia pun kerap menulis di beberapa majalah dan koran lokal. Peristiwa ini titik balik Agnes menekuni kembali dunia
penulisan.

Pengabdian Agnes sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” berakhir pada 2010. Hari pertama berhenti menjadi guru, ia langsung menulis. “Entah mengapa, tulisan yang saya buat adalah cerita anak,” ujar umat Paroki St Maria Fatima Pekanbaru ini.

Agnes lantas mengunggah tulisannya ke facebook. Beberapa teman memuji dan berkomentar agar mengirimkan tulisannya ke penerbit. Mengikuti saran itu, Agnes mengirimkan tulisan ke penerbit, tapi tidak diterima. “Saya menerbitkan cerita itu secara indie. Di situ saya bertemu dengan banyak teman penulis buku anak,” kisahnya.

Pada 2013, Agnes menerbitkan buku anak rohani berjudul Kumpulan Kisah Santa-Santo. menyusul kemudian buku Hujan! Hujan! Hujaaan! yang berisi enam cerita anak tentang hujan.

Melalui buku ini, kata Agnes, anak-anak bisa mendapatkan ilmu pengetahuan tentang hujan. Ia menandaskan, melalui buku, anak-anak bisa mendapatkan literasi bacaan untuk mengimbangi kemajuan perkembangan informasi dan media berbasis digital. “Namun prinsipnya mengajak anak-anak bermain-main dengan imajinasi tentang hujan,” ujar penggemar traveling ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*