Artikel Terbaru

Gerakan Bersama Membela Korban

Gerakan Bersama Membela Korban
1 (20%) 1 vote

Genosida Ekologi
Suara Gereja juga bergema di “Pulau Surga” Indonesia, Papua. Menyoal kekayaan alam, Papua punya segalanya. Tapi semua kekayaan itu dikuasai para cukong dan pemilik modal. Masyarakat hanya kebagian derita. Ketika masyarakat Papua berteriak tentang hak yang direnggut,  mereka dicap separatis. Koordinator KKP-PMP Regio Papua, Rudolf Kambayong menyebutkan, alam Papua adalah mangsa empuk para investor. Akibatnya, alam semakin rusak. Daerah transmigrasi dijadikan lahan kelapa sawit. Sepuluh tahun terakhir, para pendatang sudah menjadi  “raja” di Papua. “Inilah bentuk genosida ekologi di Papua,” tuturnya.

Belum lagi tempat-tempat keramat yang dimiliki masyarakat lokal sudah beralih fungsi menjadi destinasi umum. Pemerintah menyulapnya menjadi lahan duit. Masyarakat lokal pun terpaksa menjadi penonton di koloni mereka. Budaya sobat, sudah diterjemahkan dengan uang dan  kekuasaan.

Maka KKP-PMP di Papua mengambil peran sebagai “juru bicara” bagi masyarakat adat Papua. Rudolf mengamini, melawan pemerintahan “tangan besi” sama halnya dengan bunuh diri. Tapi KKP-PMP akan bekerja keras menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat Papua, sambil memaksa Pemerintah Daerah (Pemda) berkontribusi memikirkan nasib masyarakat.

Berjuang bersama masyarakat akar rumput juga digeluti Romo Severyanus Ferry, imam Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat. Bersama kolega, ia membela masyarakat yang tanahnya direbut untuk disulap menjadi lahan sawit. Misal di Batang Tarang, Kalimantan Barat. Koordinator  KKP-PMP Regio Kalimantan ini menandaskan, persoalan lain yang mesti diatasi sekarang adalah asap kebakaran hutan.

style=”text-align: left;”>Membela Korban
Bidang kerasulan KKP-PMP KWI yang lain adalah gerakan anti kekerasan. Gerakan ini menyerukan bahwa segala tindak kekerasan hanya menyisakan masalah baru. “Boleh marah, tapi marahlah secara Katolik, marah dengan kasih,” ujar Romo Koko.

Sementara di bidang advokasi hukum dan HAM, fokus perhatian KKPPMP KWI adalah membela mereka yang menjadi korban peradilan sesat.  Advokasi melibatkan para pengacara dan aktivis yang siap memperjuangkan nasib mereka yang ditindas dan diperlakukan tak adil.

Contoh paling terbaru adalah pendampingan yang diakukan KKP-PMP KWI untuk Cristian yang tersangkut kasus narkoba Taman Anggrek pada 2008. Cristian divonis hukuman mati karena kasus ini. Namun, setelah mempelajari kronologi dan aneka berkas, tim hukum KKP-PMP KWI menemukan bahwa Cristian adalah korban peradilan sesat. Maka, KKP-PMP KWI mengajukan peninjauan ulang untuk kasus Cristian. Kata Romo  Koko, “Saat ini berkas-berkas sudah di Mahkamah Agung. Kita tunggu saja hasilnya.”

Advokat dan Koordinator Forum Advokasi Hukum dan HAM KKP-PMP KWI, Azas Tigor Nainggolan juga menegaskan bahwa hukuman mati melanggar UUD 1945 yang dinyatakan dalam pasal 28A, “Setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya.”

Lewat macam-macam kerasulan ini, KKP-PMP berusaha menjadi sahabat bagi mereka yang menderita dan tersingkirkan. Karena itu, diharapkan agar kerasulan ini tidak hanya menjadi kerasulan orang-orang tertentu, tetapi menjadi gerakan bersama, dari tingkat Keuskupan sampai ke keluarga.

style=”text-align: left;”>Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Stefanus P. Elu

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*