Artikel Terbaru

Romo T.A. Murdjanto Rochadi Widagdo: Anak Lurah Pembawa Berkah

Romo T.A. Murdjanto Rochadi Widagdo: Anak Lurah Pembawa Berkah
4 (80%) 8 votes

Saat Romo Rochadi pulang kampung dan merayakan Misa perdana di Paroki Hati Kudus Yesus Ganjuran, Keuskupan Agung Semarang, ia melihat sosok pria yang dikenalnya. Orang itu duduk di bangku paling depan sendirian. Usai Misa, pria itu mendatangi Romo Rochadi. “Romo, terima kasih. Saya sudah sembuh dan mau dibaptis,” ujarnya, seperti dikutip Romo Rochadi. Menurutnya, kejadian itu berkat kuasa Sakramen  Imamat. Ia kian menyadari para imam sesungguhnya bisa menjadi penyembuh melalui kuasa tahbisan.

Pada medio 1990, Romo Rochadi mendampingi peserta ziarah ke Lourdes, Perancis. Sewaktu dalam perjalanan, ia melihat seorang nenek, wajahnya terlihat layu dan langkahnya pun tertatih-tatih. Nampak jelas dari mata Romo Rochadi bahwa tubuh nenek itu membiru. Romo Rochadi yakin perempuan tua itu gering atau sakit. Empatinya menyemburat. Dalam hati, ia memohon kepada Tuhan, penyakit yang mendera perempuan itu dialihkan kepadanya. Selang beberapa waktu, tubuh sang nenek bu gar. Sebaliknya, Romo Rochadi nyaris ambruk. Gering yang ia tanggung amat getir.

Mantan Kepala Paroki Kristus Raja Pejompongan, Jakarta Pusat, ini kapok menjadi penyilih penyakit orang semenjak kejadian itu. Menurutnya, Tuhan seperti menegur dia yang sok jagoan. Padahal dalam Kitab Yesaya (Yes 53:4), kutip Romo Rochadi, amat jelas disebut, Tuhanlah yang telah menanggung segala penyakit dan kesengsaraan manusia.

Peti Mati
Sepanjang pelayanan sebagai imam, banyak orang datang kepada Romo Rochadi dengan aneka keluh kesah. Mereka meminta didoakan. Namun, Kepala Paroki St Yohanes Maria Vianney Cilangkap, Jakarta Timur, ini lebih nyaman menyebut praktik itu sebagai bimbingan rohani. Salah satunya adalah Aegidius Lucky. Ia pernah mengantar orang tuanya. Ketika bertemu dengan Romo Rochadi, sang romo memberi renungan, sebelum mendoakan umat satu demi satu. “Waktu itu, Romo berbicara tentang Kerahiman Allah,” ujar Egi.

Tak hanya awam, sejumlah imam datang dan meminta bimbingan rohani kepada Romo Rochadi. Ia selalu berpesan kepada rekan imam, Imamat bagaikan pernikahan. Mereka bisa mencapai dan mempertahankan martabat keimamatan jika sudah mengalami jatuh cinta dengan Yesus. Tanpa jatuh cinta, keimamatan hanya mengejar obsesi dan memuaskan ambisi.

Suatu ketika, bungsu dari sembilan bersaudara itu mendapat kabar sedih dari kampung, kakaknya sakit. Romo Rochadi mendoakan saudara kandungnya. “Masak orang lain saya doakan, sedangkan kakak sendiri tak didoakan,” ujarnya. Tiap kali mendoakan sang kakak,
peti mati menyelinap dalam bayangan di benaknya. Ia pasrah. “Tuhan ini rencana dan kehendak-Mu,” imbuhnya. Selang beberapa waktu, ia menerima kabar duka, sang kakak meninggal dunia.

Peristiwa hampir serupa terjadi pada kakaknya yang lain. Romo Rochadi berdoa. Ia memohon kepada Tuhan agar diberi kesempatan menyapa kakaknya yang lagi sekarat. Harapannya terkabul, kakak-beradik bisa bersua. Setelah itu, kakaknya meninggal dunia. “Kehendak Tuhan tak bisa dibatalkan, tetapi masih bisa ditawar sedikit,” katanya tersenyum saat ditemui pada Jumat, 26/8.

KOMENTAR ANDA:

2 Comments

    • Romo Rochadi saat ini berkarya di Paroki St Yohanes Maria Vianney Cilangkap
      Sekretariat Paroki di Jalan Bambu Wulung No.60, Setu, Cipayung, DKI Jakarta, 13890 (021) 8444893

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*