Artikel Terbaru

Berjuang, Berkalung Asa dan Doa

Paroki Jatiwaringin mengadakan bazar untuk umat dan masyarakat sekitar .
[Dok. WKRI Cabang Jatibening]
Berjuang, Berkalung Asa dan Doa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBertahun-tahun belum memiliki gereja, pijar harapan terus menyala. Umat berjuang membangun paguyuban umat Allah dan menjalin persaudaraan dengan warga sekitar.

Kerinduan memiliki gereja mengalir di hati umat Paroki St Leo Agung Jatiwaringin sejak 24 tahun yang lalu. Paroki St Leo Agung diresmikan pada 14 Oktober 1992 oleh Uskup Agung Jakarta kala itu, Mgr Leo Soekoto SJ. Paroki ini merupakan pengembangan dari Stasi St Angela Jatibening-Bekasi, Paroki St Anna Duren Sawit, Jakarta Timur. Paroki telah berdiri, namun belum memiliki gereja.

Perayaan Ekaristi pun mesti diadakan berpindah-pindah, di TK Kenari Kompleks Perumahan Jatibening Dua, rumah-rumah umat, hingga di tenda yang dibangun di belakang halaman Susteran Franciscanae Cordis Jesu Et Mariae (FCJM). Ada juga umat yang mengikuti Misa di gereja paroki lain. Sementara itu, sebuah rumah dibeli untuk pastoran.

Gereja Bedeng
Seiring waktu, pada 1995, gereja bedeng dibangun di tanah seluas 7.410 meter persegi, di Jl Kemang Sari Jatibening. Misa Natal 1995 diadakan di tempat ini. Kemudian perombakan gereja bedeng pun dilakukan, mulai dari penggantian ubin, pembangunan menara kecil di depan bangunan, pemancangan kerangka baja yang menjulang tinggi, dan pembangunan Gua Maria. “Waktu itu sebenarnya perizinan tempat bukan untuk gereja, tapi gedung serbaguna. Izin gereja belum ada, tapi sudah membawa besibesi panjang untuk pembangunan,” ungkap Yohanes P. Irianto, salah satu tim perizinan Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Jatiwaringin (20152018).

Sebulan berselang, 17 September 1996, terjadi tragedi “Selasa Kelabu”. Gereja bedeng terbakar. Tak ada tempat untuk Misa, umat tercerai-berai. Mengetahui situasi ini, Kardinal Darmaatmadja mengizinkan umat Paroki St Leo Agung menggunakan halaman di samping Wisma Leo, di wilayah RW 06 KPAD Jatiwaringin, Kelurahan Cipinang Melayu sebagai tempat Misa.

“Tenda dipasang pada Sabtu, lalu Minggu untuk Misa. Desember 1996, Romo Hadi (Romo Yohanes Hadi Suryono-Red), romo paroki, mengumpulkan umat. Waktu itu muncul usul agar membuat bedeng yang lebih permanen untuk Misa. Ada usulan membangun gereja,” kisah K. I Gusti Ngurah Karmadi, Ketua PPG St Leo Agung (20152018) ini. PPG pun dibentuk kembali.

Pada pengujung 1996, gereja tenda dibangun. Pada Minggu Palma 1997, gereja tenda sudah bisa digunakan untuk Misa. Sejak itu, Misa mingguan diadakan di gereja tenda ini sampai sekarang. “Saat itu, kami tidak menyangka bedeng itu akan kami gunakan bertahun-tahun,” ujar Karmadi. Karena perkembangan jumlah umat, pada 1998, tenda untuk Misa diperluas sehingga bisa menampung lebih banyak umat.

Kerinduan umat untuk membangun gereja tak pernah padam. Ini dimulai dengan membangun bedeng semi permanen. Umat mengiringi proses ini dengan berkanjang dalam doa. Sejak 4 November 2000, Novena Bunda Maria Selalu Menolong diadakan di gereja tenda. PPG juga membeli tanah di dekat gereja tenda, untuk lahan parkir.

Jalin Persaudaraan
Dalam proses pembangunan Gereja St Leo Agung, umat juga menjalin persaudaraan dan kerjasama dengan warga sekitar. Setiap tahun, sejak 2002 hingga saat ini, Paroki Jatiwaringin menggelar bazar bagi umat dan masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu cara menjaga relasi antarumat beragama.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*