Artikel Terbaru

Perjuangan Umat Perdana Jatiwaringin

Beberapa umat berada di dalam gedung serbaguna ”Graha Manunggal Bhakti Leo” usai terbakar.
[Dok. Susteran FCJM Jatibening]
Perjuangan Umat Perdana Jatiwaringin
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comSejumlah umat terharu menyaksikan pemancangan tiang Gereja St Leo Agung. Mafhum, mereka sempat berpindah-pindah dan terserak ke berbagai tempat untuk merayakan Ekaristi.

Sebuah rumah bergaya modern minimalis, di Kompleks Jatibening II, Bekasi, terlihat lengang, Selasa siang, 6/9. Hanya suara dari beberapa pekerja di depan rumah itu yang memecah kesunyian. Salah satu pekerja mengatakan, sang pemilik Johanes Irwan Darmanto, sudah pergi sejak pagi.

Sekitar 1990, di atas lahan rumah itu berdiri TK Kenari. TK itu milik Joseph Hubertus Darmono, orangtua Irwan. Umat Wilayah Jatibening merayakan Misa perdana di tempat ini. Aktivitas peribadatan dimulai seiring rencana pemekaran Wilayah Jatibening menjadi Paroki baru. Sebelumnya, Wilayah Jatibening menginduk Paroki St Anna Duren Sawit, Jakarta Timur. “Kami, Mudika hampir selalu ikut menyiapkan
kursi sebelum Misa,” kenang Irwan.

Budaya Mengunjungi
Aktivitas peribadatan di TK Kenari tak selalu berjalan mulus. Ada saja tantangan yang dialami sekitar 50 umat saat Misa Minggu. Meski begitu, perayaan Ekaristi terus berlanjut kendati berpindah-pindah tempat, termasuk di kediaman Bernadinus Purwono Widodo.

Jarak rumah Widodo dengan TK Kenari sekitar satu kilometer. Kedua tempat itu masih berada dalam satu kompleks perumahan. Umat menyebut tempat itu “Griyo Pojok”, sebab rumah itu berada di ujung kompleks, di Jalan Gandaria 3 No. 58.

Tak hanya Misa, umat juga kerap mengadakan berbagai aktivitas di rumah berlantai dua itu, misal doa dan latihan kor. “Kami juga pernah membuat ibadat ekumene di situ beberapa kali,” kata putri Widodo, Hermina Rina Mardiani. Kini, rumah tersebut telah berpindah tangan dan sudah berubah total sejak direnovasi empat tahun lalu oleh pemilik baru.

Umat yang datang Misa di Griyo Pojok terus bertambah setiap pekan, kata Theresia  Sumirah, istri Widodo. Saban arisan ibu-ibu lingkungan, mereka selalu berbagi informasi bila ada umat Katolik yang baru tinggal di Wilayah Jatibening. Informasi itu segera ditindaklanjuti dengan kunjungan kepada keluarga baru.

Kaum ibu juga mengajak umat baru di Wilayah Jatibening ikut Misa di Griyo Pojok. Selain informasi verbal, undangan juga disampaikan melalui surat. Soal surat undangan, Sumirah punya pengalaman berkesan. Sang suamilah yang selalu membagi undangan itu, bahkan sang suami punya buku khusus, semacam tanda terima. “Mungkin karena Bapak seorang militer, jadi disiplin,” terangnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*