Artikel Terbaru

Perjuangan Umat Perdana Jatiwaringin

Perjuangan Umat Perdana Jatiwaringin
1 (20%) 1 vote

Sejumlah orang yang ditemui tak bisa memberikan jawaban pasti alasan pergantian nama dari St Angela menjadi St Leo Agung. Kata mereka, di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), belum ada Paroki yang memakai nama St Leo Agung. Jawaban ini bisa disanggah. Nama St Angela pun belum dipakai sebagai nama pelindung Paroki di KAJ. “Mungkin karena nama uskup waktu itu Leo,” kelakar Yohanes Priyo Iriantono, mantan Pengurus Dewan Paroki periode 2012-2015.

Demi memenuhi kebutuhan akan tempat ibadat, pada Desember 1995, umat mendirikan gereja tenda berukuran 16 x 36 meter yang kemudian dikembangkan menjadi gedung serbaguna. Gedung yang berjarak sekitar 500 meter dari Biara FCJM dinamakan ”Graha Manunggal Bhakti Leo”. Gedung itu digunakan antara lain untuk Misa. Gua Maria pun dibangun di tempat ini.

Tak hanya sarana kegiatan umat yang berpindah, para gembala umat pun ikut bermigrasi, dari Jalan D nomor 5 ke “Pondok Leo Agung” yang berada persis di depan gedung serbaguna. Sayang, gedung serbaguna dan gua Maria terbakar pada 17 September 1996. “Amat sedih. Gua Maria baru sekali kami pakai untuk perayaan,” ungkap Julius Sugiarto, yang didapuk untuk membidani gua itu.

Umat tercerai berai sejak kejadian “Selasa Kelabu”. Umat merayakan Misa di berbagai tempat, misal Gereja St Anna. Meskipun Paroki Leo Agung juga menggelar Misa di sejumlah tempat, seperti gedung olah raga dan gedung serbaguna di Perumahan Jatibening Estate, Wisma Leo atau Sekretariat PMKRI dan rumah Karmadji di Kompleks AURI Waringin Permai, Jatiwaringin.

Pada 1997, Misa yang sebelumnya digelar berpindah-pindah, terkonsentrasi di satu tempat di Jalan Kartika Eka Paksi No. 1, Kompleks Kodam, Jatiwaringin. Gereja tenda yang berada sekitar 300 meter dari Kali malang ini menjadi labuhan umat sambil menanti kehadiran gereja baru. “Saya mema hami kondisi dan perjuangan umat saat itu. Se perti kisah jemaat perdana, umat saat ini pun perlu perjuangan. Perjuangan itu membuat umat sehatisejiwa dan menjadi pancaran berkat bagi sesama. Jika Ge reja hanya berada dalam kenyamanan itu berbahaya. Kita bisa tak mau tahu de ngan situasi di sekitar kita,” pesan Romo Yus Noron.

Merawat Sejarah
Menyusuri lokasi dan dinamika umat perdana Paroki St Leo Agung tak ubahnya seperti sedang berziarah. Semua telah banyak berubah, rumah-rumah yang sempat menjadi ruang interaksi antarumat dengan Yang Kuasa sudah berubah rupa dan fungsi, serta alih kepemilikan.

Gedung serbaguna yang terbakar tentu menjadi kenangan yang tak akan pernah terlupa. Kondisi bangunan itupun kini mangkrak. Corat-coret menghiasi dinding bangunan. Jalan menuju gedung itu ditumbuhi rumput setinggi 80 sentimeter. Kata Yohanes, bangunan itu akan dipakai sebuah komunitas pelayanan di KAJ. Namun sejak rencana itu mengemuka enam tahun lalu, belum terealisir hingga kini. Pondok Leo Agung yang telah direnovasi oleh Paroki untuk komunitas itu juga sepi, tak berpenghuni. Cat di langit-langit bangunan telah mengelupas.

Hedwiga Utari dan Aluisia Yovita Juriah pasti terharu jika melihat bangunan yang didirikan penuh air mata rusak tak terawat. Terlebih Erwin Siegfried Pechler Suroso. Ia adalah “komandan” Panitia Pembangunan Gereja periode 1994-1999. Gedung serbaguna berdiri pada periode kepengurusannya. Kata orang, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Rupanya, kita masih harus belajar menghargai jasa orang-orang yang telah berjuang menghadirkan Gereja St Leo Agung.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*