Artikel Terbaru

Beato Ignatios Shukrallah Maloyan ICPB (1869-1915): Uskup Agung Martir Gereja Armenia

Beato Ignatios Shukrallah Maloyan ICPB (1869-1915): Uskup Agung Martir Gereja Armenia
1 (20%) 1 vote

Pastor Ignatios semakin tenar. Tahun 1911, dalam sebuah Sinode Para Uskup di Roma, ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Mardin pada 1 Oktober 1911. Ia menerima tahbisan episkopal pada 22 Oktober 1911, dengan pentahbis utama Patriark Cilicia, Boghos Bédros XIII Terzian dan pentahbis pendamping, Uskup Agung Keuskupan Marasc, Mgr Avedis Bédros XIV Arpiarian dan Uskup Agung Emeritus Mardin, Mgr Hussig Gulian.

Setelah tiga tahun menjadi uskup, pecah Perang Dunia I (1914-1918). Sepanjang sejarah, Armenia pernah ditaklukkan oleh bangsa Yunani, Romawi, Persia, Bizantium, Mongolia, Arab dan Rusia. Praktis, Gereja Armenia mendapat tekanan dari bangsa-bangsa tersebut. Pun dari Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman); sebuah imperium lintas benua yang didirikan suku-suku Turki di bawah pimpinan Osman Bey atau Osman I (1258-1326) di barat laut Anatolia pada 1299.

Sejak abad XVII hingga masa Perang Dunia I, sebagian besar tanah orang Armenia dikuasai oleh bangsa Turki Ottoman. Akibatnya, orang Armenia mendapat perlakuan diskriminatif, penganiayaan, dan beban pajak yang sangat tinggi. Kehadiran Ottoman menjadi momok menakutkan  bagi Armenia. Banyak perempuan dan anak-anak diasingkan, juga para pelayan pastoral ditangkap dan dipaksa melakukan perjalanan ke sekitar Gurun Suriah. Jumlah korban tewas kala itu mencapai 1,5 juta jiwa.

Pertahankan Iman
Pada 30 April 1915, tentara Ottoman mengepung Keuskupan Mardin dengan tuduhan menyembunyikan senjata. Mgr Ignatios ditangkap bersama 25 imam dan 862 umat. Mereka dirantai dan dijebloskan ke dalam penjara. Hari-hari mereka lalui dengan siksaan berat. Tiba-tiba mereka  ditawari oleh kepala pasukan Mahmdouh Bey untuk menjadi mualaf. Tetapi Mgr Ignatios menolak. Katanya, “Saya tidak akan mengkhianati Kristus dan Gereja-Nya.” Karena itu, Mgr Ignatios digiring bersama para tawanan lain ke daerah dekat Desa Çinar, Diyarbakir, Turki.

Pada 10 Juni 1915 jadi hari yang paling mengerikan. Mgr Ignatios, para imam dan umat berbaris di ladang pembantaian. Lagi-lagi mereka diminta untuk berpindah keyakinan. Tapi Mgr Ignatios menolak. Akhirnya pembataian dimulai. Pakaian mereka dilucuti, kemudian disiram minyak dan dibakar hidup-hidup. Mgr Ignatios menjadi tawanan terakhir yang dibunuh. Sebelum timah panas bersarang di tubuhnya, ia memekik, “Oh Tuhan, kasihanilah aku. Tuhan, berilah aku kekuatan-Mu.”

Mgr Ignatios wafat di Diyarbakir, 11 Juni 1915. Menurut kesaksian, tubuhnya mengeluarkan cahaya selama tiga hari. Jazadnya kemudian dimakamkan di sekitar desa tersebut. Pada 24 April 2001, Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005) menggelarinya venerabilis, lalu beato pada 7 Oktober 2011. Dalam homili beatifikasi, Bapa Suci Yohanes Paulus II mengatakan, “Pada zaman sekarang kita membutuhkan iman yang kuat seperti Ignatios. Di tengah derita, ia merayakan Ekaristi sebagai sumber kehidupan.” Beato Ignatios dikenang setiap 11 Juni.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*