Artikel Terbaru

Cegah Kekerasan Terhadap Anak

Cegah Kekerasan Terhadap Anak
1 (20%) 1 vote

Berkaitan dengan kekerasan fisik dan emosional ini, tidak sedikit orangtua (ayah dan atau ibu korban) meyakini bahwa inilah cara paling efektif dan praktis untuk mendidik, mengondisikan, mengendalikan serta mengarahkan anak agar sejak dini memiliki kedisiplinan, etika, moralitas, dan segala sifat ”ideal” lainnya. Seakan hanya dan dengan cara kekerasan kelak sang anak akan menjadi ”orang yang berguna bagi diri sendiri, berbakti kepada orangtua, agama dan negara”.
 
Kekerasan seksual mencakup segala bentuk pelibatan dan perlakuan/tindakan seksual yang secara langsung atau tidak bertujuan memenuhi nafsu seksual pelakunya (dalam konteks keluarga bisa orangtua, saudara/saudari kandung) terhadap anak.
 
Bentuknya, dari yang ”paling halus” (misalnya, mengajak anak melihat gambar/ media porno, mendengarkan rekaman materi auditif pornografis), hingga yang berupa perlakuan nyata (melakukan rayuan verbal, sentuhan hingga pemaksaan yang bermotif pemenuhan nafsu seksual).
 
Juga menjadikan anak sebagai obyek seksual, dengan merekam dengan kamera foto atau film. Kekerasan seksual sangat erat komplikasinya dengan kekerasan emosional.
 
Sepintas mungkin sulit dipercaya, bagaimana mungkin bisa terjadi kekerasan seksual dalam keluarga? Namun, kenyataannya, banyak kasus terjadi. Hanya saja sangat sedikit kasus yang terungkap. Sebagian besar tidak terungkap. Para korban menyimpan rapat dalam penderitaan batin yang dibawanya hingga ke liang lahat.
 
Efek psikis
Kekerasan terhadap anak dapat menimbulkan efek kesakitan secara fisik-psikis maupun mental. Jika kekerasan dialami sejak usia dini dan terus berlanjut hingga masa kanak-kanak, sangat mungkin si anak sebagai korban akan menghayati realitas kesakitannya sebagai bagian dari norma kehidupan yang bisa jadi akan menjadi semacam ”filosofi hidup” yang kemudian mewarnai fase-fase perjalanan hidup selanjutnya.
 
Namun, secara umum kekerasan yang dialami anak dapat menimbulkan efek-efek yang bersifat destruktif bagi perjalanan hidupnya, baik jangka pendek, jangka panjang, temporal, maupun permanen.
 
Berbagai efek destruktif tersebut merentang dari reaksi kecemasan, kemurungan, depresi serius, mengurung diri, tidak mampu mempercayai orang lain, problem kemampuan interpersonal, rendahnya harga diri, pendendam, miskin empati, rendahnya motivasi menjalani hidup, perusakan diri (misalnya melukai diri, pikiran/ ide bunuh diri, tindakan melakukan bunuh diri), cacat secara fisik/mental, bahkan dapat menyebabkan kematian.
 
Harus diakui, sangat sedikit keluarga yang benar-benar 100% terbebas dari praktik tindak kekerasan terhadap anak. Tindak kekerasan anak dalam keluarga sesungguhnya merupakan fenomena sekaligus problem serius, dilihat dari kemungkinan efek-efek destruktif yang dapat ditimbulkan bagi perkembangan dan perjalanan hidup anak-anak.
 
Jika dipertimbangkan dari berbagai faktor yang melatarbelakanginya di pihak para pelaku, sangat mendesak kiranya bagi para keluarga untuk merefleksikannya secara jujur: Sungguhkah di keluargaku tidak ada problem kekerasan terhadap anak? Jika terjadi problem itu, sejauh manakah? Langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk mengatasinya?
 
Bila kesadaran untuk bersikap peduli terhadap ada tidaknya problem itu dalam keluarga sudah muncul, dan ternyata kemudian diakui memang ada problem, maka sesegera mungkin diupayakan pengatasannya.
 
Jika upaya secara domestik kurang dimungkinkan, sebaiknya melibatkan intervensi dari pihak-pihak yang memiliki kompetensi (misalnya, konsultan/ terapis keluarga, konselor pastoral keluarga, atau profesional lain yang relevan).

Drs H.M.E. Widiyatmadi MPsi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*