Artikel Terbaru

Jangan Sampai Mati Sekolahku

Jangan Sampai Mati Sekolahku
3 (60%) 2 votes

Paulus tak menampik bahwa penyebab utama tutupnya Jurusan Elektronika adalah keuangan. Ia menjelaskan, selama ini Sint Joseph paling banyak menerima siswa dari Panti Asuhan Vincentius Putra dengan prosentase sekitar 80 persen. Itu artinya, dana pendidikan jelas disiapkan oleh internal Yayasan PVJ. Harapannya, kuota 20 persen yang tersedia bagi siswa non panti bisa menopang finansial sekolah. Tapi beberapa tahun terakhir, minat anak Jakarta bersekolah di Sint Joseph menurun drastis. Yang masih berminat mendaftar justru anak-anak “pinggiran”, seperti dari Tangerang dan Bekasi. “Kami tidak bisa menuntut mereka membayar mahal karena penghasilan orangtuanya paspasan,” kata Paulus. Menatap kondisi ini, para pengurus Yayasan PVJ sedang mencoba peruntungan lain. Ide yang terbersit adalah mengalihfungsikan SMK Sint Joseph ke jurusan lain, salah satunya pariwisata.

Saingan Berat
Selain bersaing dengan sekolah negeri, sekolah Katolik juga sedang berada dalam era industri pendidikan. Sekolah-sekolah berlabel internasional tumbuh bagai jamur di musim hujan. Sekolah Don Bosco Pondok Indah yang letaknya terhimpit oleh beberapa sekolah berlabel internasional di Jakarta Selatan juga terkena dampak. Orangtua-orangtua tajir lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional. Sementara orangtua dengan ekonomi menengah ke bawah berduyun-duyun memasukkan anaknya ke sekolah negeri. “Sekolah Katolik harus sadar bahwa masyarakat kini sudah well educated atau cerdas memilih pendidikan,” ujar Pelaksana Harian Yayasan Don Bosco, Jimmy Susanto.

Pemerintah masih setengah hati membantu sekolah swasta. Kondisi ini membuat para pengelola sekolah Katolik ketar-ketir tiap awal tahun ajaran baru. Meski demikian, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Katolik KAJ, J. Soepardi masih berbesar hati. Menurutnya, sekolah Katolik masih unggul dari segi pendidikan karakter, terutama aspek disiplin dan kejujuran. “Tapi kita harus terus berbenah, karena tawaran sekolah gratis jadi daya tarik yang sangat besar bagi masyarakat.”

Mau Terlibat
Ketika pemerintah belum peduli dengan sekolah Katolik, Gereja perlu “mendesain” kembali keterlibatan dalam karya pendidikan. Semangat option for the quality menjadi kata kunci bagi manajemen lembaga pendidikan. Hal ini diakui Ketua Yayasan Bunda Hati Kudus (BHK) Romo Apolonius Wensy Wowor MSC.

Menurutnya, mutu pendidikan Sekolah Tarsisius, yang berada di bawah Yayasan BHK, tidak kalah bersaing, karena gaya belajar yang diterapkan para guru adalah kurikulum nasional berbasis multitalenta. Sekolah Tarsisius terus menggaungkan semboyan learning to know, learning how to do, dan learning how to be untuk jadi stimulus pembelajaran yang berpusat pada siswa, ditopang pelayanan berbasis konseling.

Sekolah Katolik juga perlu mengedepankan paradigma sebagai sekolah inklusif, pluralis, dan visioner. Selain itu, untuk menjaring siswa baru, sekolah Katolik mesti “tebal muka”, dengan door to door ke rumah umat. “Harus ngamen dengan proaktif untuk memamerkan keunggulan sekolah, jaminan pendampingan, dan bimbingan prima bagi siswa,” ujar Romo Wensy.

Sementara, Ketua Pengurus Perkumpulan Strada Jakarta Romo Josephus Ageng Marwata SJ mengatakan, bahwa saat ini adalah kesempatan yang baik bagi para penyelenggara layanan pendidikan Katolik untuk berefleksi dan berani belajar mengambil keputusan yang tepat untuk berubah demi kebaikan. “Apakah Gereja dan masyarakat masih membutuhkan kehadiran sekolah Katolik? Pendidikan Katolik seperti apa yang dibutuhkan? Apakah kita semua mau terlibat dalam penghadiran sekolah Katolik?” ujarnya.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Stefanus P. Elu/Marchella A. Vieba/Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 39 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 25 September 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*