Artikel Terbaru

Ayo Selamatkan Sekolah Katolik

Ayo Selamatkan Sekolah Katolik
Mohon Beri Bintang

Realitas Kita
Ketua Komisi Pendidikan (Komdik) KAJ Bruder Heribertus Sumarjo FIC mengatakan, dalam kondisi ideal di KAJ, satu guru rata-rata mendampingi 30 siswa. Tapi di sekolah Katolik saat ini, untuk Taman Kanak-Kanak satu guru mendampingi hanya 16 siswa, sementara satu guru SD mendampingi 22 siswa. Di jenjang SMA dan SMK, satu guru mendampingi sekitar 12-15 siswa, dan di Sekolah Luar Biasa satu guru mendampingi lima siswa. Dari data sederhana ini sudah terlihat bahwa tren jumlah siswa di sekolah Katolik sedang anjlok.

Sementara, rekap data Majelis Pendidikan Katolik (MPK) KAJ per Januari 2014 hingga 2016 menunjukkan, terdapat kenaikan jumlah sekolah Katolik yang bergabung ke MPK KAJ. Tercatat pada 2014, ada 420 sekolah Katolik. Pada 2015, jumlahnya meningkat menjadi 436 sekolah, dan pada 2016, naik lagi menjadi 440 sekolah.

Peningkatan ini berbanding terbalik dengan jumlah siswa yang cenderung menurun di periode yang sama. Pada 2014, siswa yang terdaftar di sekolah Katolik yang tergabung dalam MPK KAJ berjumlah 129.013 siswa. Pada 2015, menurun menjadi 127.588 siswa, dan tahun ini, berdasarkan rekapan yang sudah masuk, jumlah siswa menurun lagi ke angka 127.068 siswa.

Br Heri juga menyasar tiga komponen utama yang menentukan hidup mati sekolah Katolik, yakni sumber daya manusia (SDM), uang, dan manajemen pengelolaan sekolah. Terkait SDM, kalau mau mendapat guru berkualitas harus menyiapkan dana yang besar. Sementara harus diakui bahwa sekolah-sekolah Katolik belum mampu membayar upah guru sesuai Pedoman Gaji Pegawai Negeri Sipil (PGPS). “Maka jangan heran, jika tenaga pengajar ramai-ramai pindah ke sekolah negeri yang menawarkan upah lebih besar,” kata Br Heri.

Meningkatkan kualitas pendidikan Katolik lewat jalur penguatan mutu sumber daya manusia terutama guru, juga menjadi perhatian Lembaga Operasional Fajar Pendidikan. Lembaga di bawah Yayasan Anugerah Dharma Abadi ini memfasilitasi pelatihan bagi guru-guru di sekolah-sekolah Katolik. Direktur Program Fajar Pendidikan Ign. Bobby R.F. Budiarto mengatakan, Fajar Pendidikan muncul sebagai tindak lanjut Nota Pastoral Sidang Para Uskup Konferensi Waligereja Indonesia tahun 2008 tentang Lembaga Pendidikan Katolik. Lembaga yang berdiri pada 2009 ini diinisiasi oleh tiga imam Serikat Yesus, yakni Romo E. Baskoro Poedjinoegroho SJ, Romo J. Ageng Marwata SJ, dan Romo Markus Wanandi SJ.

Bobby menjelaskan, pada 2016, Fajar Pendidikan menjalin kerja sama dengan 37 sekolah Katolik, baik SMA maupun SMK lewat forum yang diberi nama Musyawarah Kepala Sekolah. Sebetulnya, yang terdaftar sebagai rekan kerja Fajar Pendidikan ada sekitar 60 sekolah. Namun yang lain belum bergabung untuk mengikuti pelatihan. Fajar Pendidikan sudah melakukan beberapa kegiatan terkait pelibatan siswa dan guru dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah, pembekalan bagi para guru, serta pelatihan kepekaan guru dan anak didik terhadap kehidupan masyarakat.

Masih Butuh
Macam-macam usaha menyelamatkan sekolah Katolik sudah dilakukan oleh beberapa yayasan dan lembaga untuk menggenjot kualitas guru. Beberapa tahun belakangan, KAJ juga mendirikan Sentra Belajar Guru (SBG) di setiap Dekanat. Ada juga komunitas yang menyasar pelayanan sektor pendidikan di pedalaman Indonesia, seperti Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan.

Usaha dan perhatian itu menunjukkan bahwa sekolah Katolik masih dibutuhkan kehadirannya. Bobby menegaskan, justru anak-anak Katolik akan teruji kualitasnya jika mereka dididik secara Katolik. Hal senada juga diutarakan Paulus. Ia berharap, ada lebih banyak umat Katolik yang terketuk hatinya untuk ikut menyelamatkan sekolah Katolik. Gerakan yang sudah dimulai hanya sebagai konektor antara sekolah Katolik yang terancam tutup. Mari dengan cara masing-masing, kita turut serta menyelamatkan sekolah Katolik!

Stefanus P. Elu
Laporan: Christophorus Marimin/Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 39 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 25 September 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*