Artikel Terbaru

Beato Tommaso Acerbis (1563-1631): Rasul Kapusin Tanpa Stola

Beato Tommaso Acerbis (1563-1631): Rasul Kapusin Tanpa Stola
1 (20%) 1 vote

Gereja kala itu sedang gencar menyebarluaskan hasil Konsili Trente (1545-1563). Konsili yang diadakan di Trente, Italia ini dihelat untuk melawan gerakan Reformasi Protestan. Br Tommaso dengan berani mengkritik gerakan Gereja Reformasi, baik Lutheran maupun Kalvinis. Tema-tema yang sering ia bicarakan untuk menjawab bantahan Gereja Reformasi kala itu adalah seputar penyelamatan jiwa, sakramen, dan Kanon Kitab Suci.

Gerakan kontra-reformasi Tommaso dilirik banyak bangsawan Katolik dan pejabat Gereja. Semangat Sola Fide, Sola Gratia, dan Sola Scriptura dari para reformis dibantah keras Br Tommaso. Ia menggaungkan aspek iman yang juga termaktub dalam magisterium dan tradisi lainnya dalam Gereja.

Nyala Api Cinta
Ketenaran Br Tommaso dalam membela ortodoksi Gereja segera tersebar luas. Ia pernah diutus ke Innsbruck, Austria selama 12 tahun. Ia banyak bertemu penguasa Katolik, seperti Kaisar Austria, Ferdinand II; Pangeran Salzburg, Paris Lodron; dan bangsawan Bavaria, Maximilian I. Tommaso dimintai bantuan menghalau gerakan Reformasi di daerah mereka. Bahkan ia pernah diangkat sebagai penasihat bagi Uskup Agung Trento dan Uskup Agung Salzburg.

Di Tyrol, rasul Kapusin itu bercita-cita mendirikan sebuah gereja, yang dipersembahkan kepada St Maria yang dikandung tanpa noda dosa. Konsep St Maria Immaculata itu sudah muncul dalam kumpulan tulisannya, “Nyala Api Cinta” dengan amat jelas. Inilah buku kesukaan putra Bergamo yang hidupnya juga suci, Bapa Suci Yohanes XXIII.

Sayang, Br Tommaso keburu wafat pada 3 Mei 1631 di Innsbruck. Ippolito Guarinoni, murid sekaligus sahabatnya, merealisasikan mimpi Tommaso. Lalu 23 tahun pasca Tommaso wafat, Ippolito berhasil mendirikan gereja itu. Tak disangka, selang dua abad tepat, Paus Pius IX mempromulgasikan dogma Maria yang dikandung tanpa noda dosa pada 1854.

Jazad Br Tommaso dimakamkan di Kapel Bunda Maria milik Ordo Kapusin di Innsbruck. Bapa Suci Yohanes Paulus II menggelarinya venerabilis pada 23 Oktober 1987. Paus Benediktus XVI telah merestuinya sebagai beato pada 10 Mei 2012. Namun Misa Beatifikasi baru digelar pada masa Paus Fransiskus, 21 September 2013. Misa dipimpin Prefek Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Amato SDB di Bergamo.

Lebih dari empat abad devosi umat Bergamo kepada Br Tommaso berlangsung. Banyak mukjizat terjadi, seperti mukjizat kesembuhan Renata Zanchi, gadis 24 tahun yang menderita flebitis atau radang pembuluh darah. Beato Tommaso dikenang tiap 3 Mei.

Yusti H. Wuarmanuk/R.B.E. Agung Nugroho

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 39 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 25 September 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*