Artikel Terbaru

Perjuangan Ibu dengan Buah Hati Spesial

Yola Tsagia dan Odilia Queen Lyla bersama orangtua Yola.
[HIDUP/A. Nendro Saputro]
Perjuangan Ibu dengan Buah Hati Spesial
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.comKesabaran dan kesetiaannya diuji saat anak semata wayangnya divonis kelainan fisik yang langka (Treacher Collins Syndrome).

Awal April 2015, Yola Tsagia pusing. Badannya pun terasa lemas. Ia tak berani pulang karena takut dengan papa dan mamanya jika bertanya soal kondisi cucu mereka. Umat Paroki St Herkulanus, Keuskupan Bogor ini tak menyangka anak semata wayangnya, Odilia Queen Lyla, divonis dokter mengalami Treacher Collins Syndrome (TCS).

TCS merupakan kelainan kongenital langka, bentuk kepala kecil, tidak memiliki tulang pipi, kelopak mata terkulai, rahang tidak berkembang, dan tulang-tulang telinga tengah tidak terbentuk. Struktur fisik ini biasanya membuat penderita mengalami kesulitan bernafas, makan, dan kehilangan pendengaran.

Yola sempat bertanya kepada dokter kemungkinan anaknya sembuh. Sang dokter menyatakan, secara genetik tidak bisa sembuh. Waktu dan biaya banyak terkuras jika ingin dioperasi. “Butuh tulang rawan untuk menggantikan dan harus berkali-kali operasi. Tentu menyakitkan dibanding memakai alat bantu dengar untuknya,” kata Yola menirukan jawaban dokter.

Hadiah Terindah
Butiran airmata perempuan kelahiran Jakarta, 5 November 1982 ini mengucur deras, mendengar keterangan dokter. Yola khawatir orangtuanya–yang aktivis Gereja–malu memiliki cucu penderita TCS. Ia–yang juga aktivis di beberapa komunitas–pun minder tentang anaknya. “Oh my God, aku punya anak spesial, salah apa aku? Dosa apa yang telah kulakukan?”.

Isteri Yohanes Soerjo Satrijo ini semula amat gembira dirinya dinyatakan hamil pada 2008. Namun, pada awal kehamilan, Yola sempat mengalami pendarahan. Saat di RS, dokter menganggap si janin sedang menancapkan dirinya di dinding rahim dan biasa jika terjadi pendarahan.

Kala kandungannya berusia tiga bulan, alumna LPK Tarakanita Jakarta ini mengalami pendarahan lagi. Saat itu, ia sedang melatih kor di wilayahnya. Pendarahan kian menjadi-jadi ketika ia di toilet. Dokter meminta Yola cuti dan banyak istirahat di rumah.

Memasuki usia kehamilan sembilan bulan, ketuban Yola pecah. Pada 8 Desember 2008, putrinya lahir dengan berat 2,35 kilogram dan panjang 45 sentimeter. Pada usia tiga bulan, perkembangan Odil seperti anak-anak lain. Ia bisa tengkurap dan mengangkat kepala. Namun beberapa saudara Yola curiga dengan kelainan wajah Odil. “Waktu itu mereka tak berani menyampaikan, takut mengganggu perasaan saya,” ujar alumna SMP Tarakanita Jakarta ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*