Artikel Terbaru

Perlunya Pendampingan Keluarga

Perlunya Pendampingan Keluarga
2 (40%) 2 votes

Ruang lingkup dan metode
1. Persiapan perkawinan
Perkawinan dan hidup berkeluarga perlu dipersiapkan dengan baik dan secara bertahap, yakni dalam tiga tahap yang berurutan sebagai berikut.
 
Pertama, persiapan jauh, yang selambat-lambatnya dimulai sejak awal usia remaja. Anak-anak remaja, sejak berusia sekitar 12 tahun, perlu diberi pendidikan yang baik di bidang seksualitas.
 
Kedua persiapan dekat, yang selambat-lambatnya dimulai sejak awal masa pacaran. Pemuda atau pemudi yang sudah mempunyai pacar perlu didampingi secara intensif, agar mereka dapat berpacaran secara bijaksana.
 
Ketiga, persiapan akhir, yang selambat-lambatnya dilaksanakan dalam beberapa minggu sebelum pernikahan. Dalam waktu yang relatif pendek itu para calon mempelai hendaknya dibantu mempersiapkan pernikahan mereka dengan baik. Sekurang-kurangnya dengan menjalani penyelidikan kanonik, mengikuti kursus persiapan perkawinan, dan mempersiapkan liturgi pernikahan yang mengesankan.
 
2. Pendampingan keluarga biasa
Pendamping bagi keluarga-keluarga yang berada dalam kondisi biasa terutama dimaksud untuk menyemangati suami-istri dalam usaha mencapai kesejahteraan keluarga. Juga untuk mendukung mereka dalam menghayati perkawinan secara Kristiani. Selain itu membantu mereka dalam mendidik anak-anak mereka secara Kristiani.
 
Cara pertama untuk mendampingi keluarga-keluarga tersebut di tempat tinggal mereka. Cara kedua yang kiranya perlu dikembangkan ialah pendampingan timbal-balik, yang terjadi melalui paguyuban-paguyuban suami-istri Katolik. Seperti misalnya paguyuban-paguyuban suami istri Katolik ME atau CFC. Melalui paguyuban-paguyuban semacam itu, para suami istri Katolik mau dan mampu saling mendampingi.
 
Cara ketiga untuk mendampingi keluarga-keluarga adalah pendampingan dalam kelompok besar. Misalnya melalui ceramah, diskusi, seminar, rekoleksi, retret, dan sebagainya. Demi keberhasilannya acara-acara itu, perlu dipilih para narasumber yang kompoten dan tema-tema yang aktual dan relevan.
 
3. Pendampingan keluarga khusus
Keluarga yang sedang berada dalam kondisi sulit dapat didampingi melalui suatu cara yang biasa disebut konseling pastoral. Bila kesulitan itu belum terlalu rumit, konseling itu dapat dilaksanakan oleh penasihat yang tampil (yang cukup berpengalaman walaupun tidak profesional). Bila penasihat terampil ternyata tidak mampu menolong keluarga tersebut dapat dirujuk kepada seseorang konselor profesional.
 
Bila status yuridis dari perkawinan suami-istri yang didampingi, menurut hukum Gereja Katolik, belum sah, pendampingan sebaiknya memuat usaha ke arah pengesahan perkawinan mereka dengan atau tanpa pembaruan janji nikah, sesuai kemungkinan yang ada.
 
Bila pasangan suami-istri yang didampingi tidak mampu meneruskan hidup bersama, lagi pula perkawinan mereka memang belum sah, pendampingan dapat memuat usaha ke arah pembatalan perkawinan mereka melalui Tribunal atau Pengadilan Gereja di tingkat keuskupan.
 
Bila orang yang didampingi sudah bercerai di luar Gereja Katolik, ia perlu mendapat perhatian khusus. Bila ia tidak menikah lagi, di luar Gereja, janganlah ia dilarang menerima komuni kudus.
 
Pastor Dr Al Purwa Hadiwardaya MSF

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*