Artikel Terbaru

Manuel Boeng Napiun: Cinta dan Kesetiaan Sang Perawat Makam

Manuel Boeng Napiun: Cinta dan Kesetiaan Sang Perawat Makam
3 (60%) 2 votes

Kala ada orang bertanya, “Mengapa Engkong mau merawat makam? Tak digaji pula.” Kong Boeng menjawab ringan, “Pemakaman ini adalah warisan leluhur. Di peninggalan ini ada orangtua, keluarga, dan teman-teman saya. Sebagai sebuah pusaka, maka harus dijaga. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menjaga?”
Istri Kong Boeng, Oni bin Jessan meninggal tujuh tahun lalu. Mereka dikaruniai dua anak perempuan, Ajuta Aca dan Armah. Kong Boeng sudah mempunyai tujuh cucu dan 11 cicit. Aca dan Armah yang sudah berusia sekitar 50 tahun itu juga membantu ayah mereka merawat makam sejak tiga tahun silam.
Bagi Kong Boeng, makam menjadi gambaran kondisi masyarakat di mana makam itu berada. Jika makam di suatu tempat mérah meruh (kotor), keadaan masyarakat setempat kacau dan rawan. Namun, bila makamnya bersih dan rapi, masyarakatnya pun pasti saling menghormati, aman, dan tentram.
Jika demikian, Kong Boeng sebenarnya tak hanya merawat dan menjaga makam. Ia menyediakan dirinya memelihara dan merawat akhlak dan keharmonisan penduduk Kampung Sawah. “Saya lahir di sini. Di atas tanah ini saya dibesarkan dan diberi rejeki. Maka saya wajib menjaganya sampai kapanpun,” tegasnya.
Tempat Hiburan
Suara Kong Boeng tiba-tiba serak. Matanya menerawang ke segala penjuru blok pemakaman. Kata-kata yang terlontar dari bibirnya tak setangkas menjawab beberapa pertanyaan semula. Wajahnya sedikit muram ketika ditanya, “Kelak, siapa yang bakal menggantikan Kong Boeng merawat semua makam ini?”
“Belum ada,” kata Kong Boeng setelah termangu beberapa saat.
“Manusia sekarang malu kalau bekerja di tempat ini. Tapi kenapa harus malu yah? Yesus aja nggak gengsi lahir di kandang. Kalau Dia mau mah bisa aja lahir di hotel,” imbuh Kong Boeng, tertawa. Sontak, terlihat gigi Kong Boeng masih berbaris sempurna.
“Gigi belum ada yang tanggal ya, Kong?”
Ah, ini mah gigi palsu semuanya,” jawab Kong Boeng terkekeh-kekeh.
Bagi sebagian orang, makam adalah tempat yang menakutkan. Bagi Kong Boeng, tempat itu justru memberinya hiburan. Mungkin itu pulalah yang menjadi alasan mengapa ia betah di makam saban hari.
Berkat keberadaan Kong Boeng, makam jadi tak menakutkan lagi. Acapkali ia melontarkan candaan. Jika orang bertanya, “Kenapa orang yang sudah mati tak bisa hidup lagi dan kembali ke rumahnya?” Jawaban Kong Boeng di luar dugaan, “Karena mereka sudah betah di kuburan, maka mereka tak mau kembali.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*