Artikel Terbaru

IKMK–UNY: Merawat Iman dalam Pluralitas Kampus

IKMK–UNY: Merawat Iman dalam Pluralitas Kampus
1 (20%) 1 vote

Berbeda lagi pengalaman Evangelia Tuko. Mahasiswi pendidikan Geografi asal Kalimantan Barat ini, mengaku mendapatkan banyak hal dari orangtua angkat selama live in. Misal, nilai kesederhanaan. Bagi Eva begitu ia disapa, kesederhanaan keluarga tempat ia tinggal selama live in membuatnya memahami sisi lain hidup.

Selain itu, Eva juga belajar toleransi dari keluarga tempat Eva tinggal. Dalam keluarga itu, orangtuanya yang sudah tua beragama Katolik, sedangkan anak-anaknya Kristen. Namun orangtua mereka percaya jika pilihan anak-anak mereka mantap dan betul-betul percaya itu akan baik adanya. “Saya belum pernah bertemu dengan toleransi macam itu,” ungkap Eva.

Ketika ditanya manfaat kegiatan live in ini, Monica Christi Ketua Panitia berpendapat, anggota komunitas bisa mengerti dan memahami sisi kehidupan di tempat lain. “Ternyata di luar sana masih banyak orang yang belum seberuntung kami. Jadi kami pun diajak untuk lebih mensyukuri apa yang sudah kami punyai sekarang,” kata Monika.

Lebih lanjut Monica menuturkan bahwa ada pengalaman unik ketika live in. Beberapa peserta sempat menjenguk Frater Leonardus, calon imam Diosesan Keuskupan Tanjungkarang yang sakit karena kecelakaan lalu lintas. “Kami diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam berkendara,” ujar Monica.

Lahir dari Represi
Sejarah IKMK-UNY berawal pada tahun 1972 ketika Departemen Pendidikan mengeluarkan kebijakan normalisasi kehidupan kampus. Kebijakan ini melarang organisasi kepemudaan seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Persatuan Mahasiswa dan Mahasiswi Islam (PMMI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) hidup dan berkembang di dalam kampus.

Kebijakan tersebut dirasakan juga oleh mahasiswa-mahasiswi yang selama itu ditampung dalam organisasi PMKRI. Perlahan, buih rindu akan kenangan untuk berkumpul bersama saudara seiman, semakin membuncah. Tak tahan rindu, mahasiswa Katolik yang ada di IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) bertemu dalam kelompok kecil di bawah pohon kelengkeng yang terletak di depan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNY. Pertemuan itu berulang terus dan bahkan di kapel Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Rindu itu melahirkan komunitas kecil KMK di masing-masing fakultas. Pada 28 Oktober 1978 kumpulan KMK fakultas menggelar Kongres I. Dari kongres ini muncul komitmen untuk membentuk IKMK.

Bersama dengan komunitas mahasiswa-mahasiswi Kristen (PMK) dan komunitas mahasiswa-mahasiswi Hindu-Budha (UKHB), keberadaan IKMK mulai diakui oleh pihak rektorat IKIP pada masa itu dalam satu unit kegiatan kerohanian bersama yang disebut Unit Kegiatan Kristen-Katolik (UKKK).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*