Artikel Terbaru

IKMK–UNY: Merawat Iman dalam Pluralitas Kampus

IKMK–UNY: Merawat Iman dalam Pluralitas Kampus
1 (20%) 1 vote

Pada 1998 Sekretariat UKKK berpisah dengan Sekretariat UKHB. Perjalanan sejarah yang panjang dari IKMK untuk menjadi UKM mandiri berakhir setelah kurang lebih 20 tahun hidup bersama dalam satu atap bersama dengan PMK. Pada 5 Juli 2000 IKMK kemudian diakui secara resmi pihak Rektorat UNY sebagai UKM mandir yang terpisah dengan PMK.

Inilah momen penting yang menandai berakhirnya UKKK. Sejak saat itu meski terpisah, IKMK dan PMK tetap hidup dalam satu tempat kesekretariatan di Gedung Rektorat lama lantai dua. Sekarang, Sekretariat IKMK dan PMK sudah terpisah, IKMK sudah menempati sekretariat baru di Gedung Student Centre UNY lantai dua.

Menyongsong Esok
Sekretaris IKMK-UNY, Elisabeth Sri Widayanti, menilai komunitas ini penting bagi para mahasiswa Katolik. Elis, begitu ia disapa bercerita soal dinamika sosial yang besar di universitas negeri dengan tingkat kemajemukan yang tinggi. Karena itu, Elis mengakui, komunitas ini menjadi rumah bagi mereka untuk tetap menjaga persaudaraan dalam iman.

Ini bisa dipahami karena mahasiswa kampus UNY memiliki corak keragaman iman, latar belakang, dan budaya. Hidup dalam keragaman justru menumbuhkan tantangan bagi mereka untuk menjadi “garam dan terang”. “Situasi yang majemuk ini, justru semakin mempererat kami. Dari keeratan itu, kami terbuka dengan apa yang di luar dengan tetap menjaga identitas iman Katolik,” ujar Elis.

Kini IKMK-UNY sudah berumur 37 tahun. Usia memang tidak lagi muda, namun semangat mereka tetap membara menatap. Dalam usaha menciptakan pendampingan yang lebih optimal kepada anggota, komunitas juga melibatkan beberapa pihak, diantaranya staf dosen internal UNY, para frater Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) dan para alumni.

Berbagai kegiatan juga diprogramkan untuk mendukung studi dan perkem bangan kepribadian para anggota. Misal, Pendalaman Iman, Misa Bulanan, Doa Rosario, Ekaristi Kaum Muda (EKM), Emotional Spiritual Quotient (ESQ), Character Building Training (CBT), Live In, Bakti Sosial, dan sebagainya.

Dengan program-program pendampingan yang intensif, diharapkan komunitas yang memiliki moto “Spiritualitas tinggi, sosialitas nyata, studi komprehensif” ini semakin hidup di dalam sanubari para anggota.

Fr Alexander Pambudi SCJ

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*