Artikel Terbaru

St Gabriel Possenti (1838-1862): Teladan Kaum Muda dari Assisi

St Gabriel Possenti (1838-1862): Teladan Kaum Muda dari Assisi
1 (20%) 1 vote

Mahkota Kesucian
Pada Juni 1858, Gabriel bersama confraternya pindah ke biara Passionis di Pietvetorina. Mereka tinggal selama setahun, lalu pindah ke Biara Isola del Gran Sasso, Juli 1959. Di sana, Gabriel mulai mengalami gejala Tuberculosis (TBC). Meski begitu, TBC tak menyurutkan semangatnya. Ia tetap tekun dalam doa dan matiraga.

Saat sakitnya kian parah, Gabriel minta agar surat-suratnya dibakar. Ia tak mau surat-surat itu dibaca koleganya. Yang tersisa hanya surat-surat pribadi, berisi nazar guna mengubah cara hidupnya. Beberapa hari menjelang tahbisan imam, Gabriel wafat saat melakukan retret di Isola del Gran Sasso, pada usia 24 tahun, 27 Februari 1862.

Superiornya, Pater Norbert CP bersaksi, “Sebelum menutup mata, ia merangkul dan meminta maaf pada para koleganya. Kemudian saat duduk, seolah ia melihat seseorang datang menghampirinya dan ia sambut dengan tersenyum.” Seorang koleganya, Bernard Mary bercerita, “Aku tak bisa menahan airmata karena kebaikan Gabriel.” Jazadnya dimakamkan di Biara Isola del Gran Sasso.

Empat tahun pasca wafat, para Passionis terpaksa pergi dari biara itu karena tempat itu diokupasi dan dijadikan barak militer. Selang 30 tahun, biara itu diambil alih lagi oleh Gereja dan dikembalikan kepada Passionis. Makam Gabriel lalu dipugar dan dijadikan destinasi ziarah rohani.

Banyak peziarah datang di pusaranya. Maria Mazzarella, gadis Italia yang menderita TBC dan periostitis (radang akut periostium tulang rahang), sembuh setelah berdoa lewat perantaraan Gabriel. Kesembuhan juga dialami Dominic Tiber yang menderita hernia. Dua mukjizat ini melapangkan jalan penggelaran kudus Gabriel. Ia dibeatifikasi Paus Pius X (1835-1914) pada 31 Mei 1908. Saat beatifikasi seorang saudaranya, Michael turut hadir bersama Pater Norbert CP.

Proses kanonisasinya sempat tertunda karena pecah Perang Dunia I (1914-1918). Akhirnya, Paus Benediktus XV (1854-1922) menggelarinya santo pada 13 Mei 1920. Ia dikenal sebagai teladan bagi kaum muda dan para pelajar. Gereja mengenangnya tiap 27 Februari.

Yusti H. Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 40 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 2 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*