Artikel Terbaru

Sarana-sarana Pertobatan

Sarana-sarana Pertobatan
1 (20%) 1 vote
Ketiga, kasih yang produktif. Ketika kita melepaskan keterlekatan pada diri sendiri dan kemandulan yang dihasilkannya dan membuat komitmen secara pribadi atau bersama-sama untuk kebaikan orang lain, maka dosa-dosa kita dihapuskan karena praksis cinta kasih ini. Santo Petrus menulis ”kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Ptr 4:8). KGK 1434 juga merujuk hal ini sebagai ”cinta aktif kepada sesama.”
 
Keempat, laku tapa. Puasa, pantang, ziarah, dan tindakan mati raga lainnya merupakan bentuk mati terhadap diri sendiri bersama Yesus. Tujuan pokoknya ialah agar kita melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi sehingga bisa lebih terbuka kepada Allah dan sesama. Banyak bentuk yang mungkin dilakukan.
 
KGK 1435 merinci: ”Pertobatan terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan perdamaian, bantuan bagi orang miskin, pelaksanaan dan pembelaan keadilan dan hukum, pengakuan kesalahan sendiri, teguran persaudaraan, pemeriksaan cara hidup sendiri, pemeriksaan batin, bimbingan rohani, penerimaan sengsara dan ketabahan… demi keadilan. Setiap hari memikul salibnya dan mengikuti Kristus adalah jalan yang paling aman untuk pertobatan.”
 
Kelima, mengikuti Ekaristi. Dengan mengambil bagian pada perayaan Ekaristi, para peserta perayaan itu didamaikan dengan Allah ”karena di dalamnya kurban Kristus yang mendamaikan kita dengan Allah dihadirkan.” Ekaristi adalah sumber dan makanan pertobatan setiap hari (KGK 1436). Paus Yohanes Paulus II meneguhkan ajaran Trente: ”Ekaristi harus ditawarkan kepada umat beriman juga sebagai ’obat’, yang membebaskan kita dari kesalahan sehari-hari dan melindungi kita dari dosa mematikan” (Reconciliatio et Paenitentia – RP, 27).
 
Sarana-sarana di atas bisa menghapuskan dosa-dosa ringan. Sedangkan untuk dosa berat dan mematikan, tetap diperlukan Sakramen Rekonsiliasi atau Tobat. Benar bahwa Sakramen Ekaristi memberikan pengampunan dosa, tetapi St Paulus secara jelas mengingatkan agar kita menerima Tubuh Tuhan secara pantas (1 Kor 11:28-29). Itu berarti kita perlu mengakukan dosa-dosa yang berat dan mematikan sebelum menerima komuni (NR 587/DS 1661).
 
Di sini tampak keunggulan Sakramen Rekonsiliasi, yaitu dalam memberikan pengampunan atas semua dosa, baik dosa mematikan, dosa berat maupun dosa ringan. Melalui sakramen ini, Allah bertindak sebagai penyembuh dan pengampun yang menghendaki manusia memiliki hidup yang penuh dan menjadi sempurna. Semua hambatan dalam diri manusia dihapuskan sehingga rahmat Allah menjadi sungguh berdaya guna. Allah merajai manusia.
 
Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*