Artikel Terbaru

Mendampingi Anak Autis

[mindfulmum.co.uk]
Mendampingi Anak Autis
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comIbu Margaretha, kami memiliki dua anak laki-laki, yang sulung kelas 2 SMA dan yang bungsu kelas 4 SLB. Anak bungsu kami waktu kecil mengalami hydrocepalus sehingga harus beberapa kali dioperasi.

Sekarang secara fisik dia sehat tetapi secara mental dia termasuk anak autis. Kemampuan intelektualnya di bawah rata-rata. Perilakunya destruktif. Dia sekarang sudah remaja 14 tahun.

Yang menjadi permasalahan kami adalah dia senang sekali jika mendapati orang lain sengsara. Kalau dia sedang marah, dia dapat menghancurkan apa saja. Terus terang emosi kami sering terpancing sehingga suasana rumah menjadi kacau.
Ibu Margaretha, bagaimana kami harus bersikap? Minimal kami dapat membuat emosi anak bungsu kami stabil.

Ibu DH

Yang terkasih Ibu DH, selamat ya ibu sudah mempunyai dua orang jagoan yang menginjak usia remaja. Ibu saat ini berduka atas permasalahan putera bungsu yang berperilaku emosional dan destruktif, bahkan Ibu menggambarkan dia sebagai anak yang senang sekali mendapat orang lain sengsara.

Saat menghadapi anak berkemampuan khusus kita memang sering dihadapkan pada permasalahan pengaturan emosi. Untuk mengatasinya kita perlu mengetahui terlebih dahulu adakah gangguan neurologis pada anak tersebut. Banyak anak-anak dengan hambatan perkembangan mental juga mengalami permasalahan neurologis, untuk itu konsultasi dengan ahli neurologi sangat diperlukan. Langkah kedua adalah mengevaluasi makanan yang disantap anak. Sudah banyak penelitian membuktikan bahwa makanan yang banyak mengandung zat pengawet, penyedap, dan makanan yang berasal dari hewan memacu kita untuk lebih agresif daripada makanan-makanan yang bersifat natural dan dari tumbuh-tumbuhan. Untuk masalah makanan ini, ibu dapat berkonsultasi dengan ahli gizi supaya ibu tahu makanan yang tepat bagi putera ibu dalam rangka untuk mengurangi agresivitasnya.

Nah, langkah ketiga adalah memperhatikan permasalahan psikis anak. Ibu DH sebaiknya mencermati kembali pada saat kapan, di mana, atau dalam suasana seperti apa putera bungsu mudah mengamuk. Kadang kita tidak menyadari bahwa kondisi-kondisi tertentu yang bagi kita, orang pada umumnya, tidak menimbulkan kemarahan, tapi bagi anak berkemampuan khusus sangat menimbulkan kemarahan. Contoh: Saat ibu berdekatan dengan seorang tetangga. Mungkin bagi ibu, tetangga tersebut tidak memiliki perilaku yang jahat, tetapi mungkin bagi putera bungsu ibu, tetangga tersebut jahat karena tanpa sepengetahuan ibu, tetangga tersebut sering menggoda atau menghina putera ibu.

Setelah ibu mengenali waktu atau situasi tertentu yang dapat menimbulkan kemarahan putera bungsu, ibu sekeluarga (bersama bapak dan kakak) dapat bekerjasama untuk meminimalkan kondisi-kondisi yang dapat memicu kemarahan putera bungsu.

Selain memperhatikan pemicu dari luar, kita juga dapat mempelajari pemicu kemarahan anak yang berasal dari dalam diri anak tersebut. Hal ini biasanya berkaitan erat dengan ketidakmampuan anak mengekspresikan secara proporsional ketidaknyamanan dalam dirinya. Contoh: anak lapar. Mungkin bagi anak lain yang berusia 14 tahun sudah dapat menahan lapar tersebut dan kemudian memenuhi kebutuhan makan pada saat yang memungkinkan, misalnya setelah di rumah dan setelah makanan tersedia. Namun, pada anak-anak dengan kemampuan khusus, dia tidak bisa menunda pemenuhan kebutuhan tersebut. Anak tersebut juga tidak mampu mengatakan secara jelas bahwa dia lapar. Akibatnya, yang terjadi mudah marah dan mengamuk saat lapar, padahal orang lain tidak tahu kalau dia lapar.

Untuk mengatasi hal itu anak bisa dilatih untuk mengkomunikasikan perasaan-perasaannya dan mengekspresikan secara tepat. Salah satu contohnya adalah saat anak santai, anak diajak untuk melihat gambar berbagai ekspresi emosi manusia, dari tertawa terbahak-bahak, tersenyum, cemberut, agak marah, sampai marah besar. Anak diajari untuk memberi nama secara tepat emosi-emosi tersebut. Kemudian di hadapan cermin kita bisa belajar bersama dengan anak wajah kita saat tertawa, tersenyum, cemberut, marah besar. Anak juga dilatih untuk melihat wajahnya sendiri saat mengekspresikan emosi tersebut. Diharapkan dengan bermain-main di depan cermin tersebut anak dapat mengenali emosinya kemudian dia juga dapat melihat bahwa saat dia tertawa atau tersenyum wajahnya nampak lebih enak dilihat daripada saat marah atau cemberut.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*