Artikel Terbaru

Kadar Kerinduan Tak Susut

Kadar Kerinduan Tak Susut
5 (100%) 1 vote

Ia menyimpan ucapan pastor jenderal itu di lubuk hatinya. Namun, setelah ia menjadi pastor, pertapaan di Austria itu ditutup sesuai keputusan Kapitel Jenderal Karmelit. ”Penyebabnya, karena animo para Karmelit menjadi pertapa kurang,” tutur Romo Johannes. Kekecewaan pun menggenang di batinnya.
 
Biara Taize
Tahun 1969, setelah menamatkan lisensiat di Universitas Gregoriana Roma, Romo Johannes memperoleh beasiswa dari Ordo Karmel Provinsi Belanda untuk melanjutkan studi doktoral di bidang spiritualitas. ”Sesuai saran mereka, saya melanjutkan studi di Institut Catholique de Paris,” tutur Romo Johannes.
 
Bila di Italia Romo Johannes hanya mengenal lingkungan biara, di Perancis ia berkenalan dengan banyak orang. ”Tidak sebatas kaum berjubah, saya juga berkenalan dengan kaum muda Perancis,” lanjutnya.
 
Romo Johannes berkesempatan mengunjungi Biara Taize dengan rombongan mahasiswa. Di sana, ia mengikuti semua ritual peribadatan. Tak terduga, Prior Komunitas Taize, Bruder Roger Schutz, menghampirinya dan mengajaknya berbincang-bincang. ”Awalnya, saya dikira orang Amerika Latin,” kenang Romo Johannes seraya tersenyum.
 
Selang beberapa waktu, Bruder Roger Schutz meminta Romo Johannes bergabung dalam tim internasional untuk Konsili Kaum Muda yang berlangsung pada hari raya Paskah tahun 1970. Acara akbar yang diikuti sekitar 2.500 orang muda tersebut menorehkan kenangan indah di lumbung ingatan Romo Johannes. ”Saya mendapat tugas memberikan kesaksian pada kelompokkelompok anak muda,’’ imbuh pastor kelahiran Warujayang, Nganjuk, 8 Juni 1939 ini.
 
Setelah itu, Bruder Roger Schutz menawari Romo Johannes untuk membentuk semacam Biara Taize di Indonesia. ”Waktu itu, tawaran tersebut cukup menggoda saya,” ungkap Romo Johannes. Melalui untaian refleksi, ia menimbang-nimbang tawaran itu.
 
Dengan terus terang Romo Johannes mengungkapkan kepada Bruder Roger Schutz bahwa ia merindukan satu bentuk hidup hening. Kemudian Bruder Roger Schutz menunjukkan pondok-pondok pertapaan di Taize kepadanya. Dengan halus Romo Johannes menampiknya. ”Saya senang terlibat dengan mereka, tetapi itu bukan panggilan saya,” kilahnya santun.
 
Kerap terbengkalai
Di penghujung masa studi, Romo Johannes menyusun disertasi berjudul ”Manusia Sempurna Menurut Pangestu”. ”Pangestu adalah suatu aliran kebatinan yang konsep hidupnya bersumber pada mistik Jawa. Di mana manusia merindukan persatuan dengan Allah yang disebut Manunggaling Kawula Gusti,” urainya panjang lebar.
 
Sejak semula Romo Johannes terpikat pada konsep tersebut. ”Entah mengapa, ada tarikan batin seperti itu dalam hidup saya,” tuturnya. Apalagi, di dalam Gereja Katolik terdapat mistik Kristiani. ”Bagi orang Katolik, ini tantangan untuk mendalami spiritualitas,” lanjutnya.
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*