Artikel Terbaru

Osbin Samosir: Aktor di Balik Persidangan DKPP

Osbin Samosir: Aktor di Balik Persidangan DKPP
1 (20%) 1 vote

Menjadi PNS
Osbin semakin merasakan kerasnya hidup di Jakarta. Ia merasa, ijazah S-1 yang ia kantongi tak cukup membantu. Ia memutuskan melanjutkan studi S-2.

Untunglah, sebelum meninggal dunia, sang ibu pernah menitipkan uang sejumlah satu juta rupiah. Uang itulah yang ia pakai untuk merantau ke Jakarta. Tapi setelah beberapa waktu, uang yang tersisa di kantong Osbin hanya Rp 250 ribu. Uang itu, ia pakai untuk membeli formulir pendaftaran S-2 Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI). Uang yang tersisa hanya 50 ribu rupiah.

Tes pertama, Osbin langsung lulus. Tapi ia harus membayar Rp 6,8 juta sebagai biaya kuliah awal. Ia sama sekali tak punya uang. Ia mulai mencari-cari bantuan. Abangnya di kampung langsung menjual kerbau. Akhirnya dana terkumpul. Osbin bisa melanjutkan kuliah. Tapi itu hanya untuk satu semester. Ia mesti banting tulang mencari dana agar terus bisa melanjutkan pendidikan.

Osbin menjalani kuliah dengan fasilitas seadanya. Kala itu, ia tinggal di daerah Kalibata. Dari situ ia naik kereta menuju stasiun Cikini. Sesampai di Cikini, ia berjalan kaki menyusuri jalan dan ruang-ruang Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, menuju kampus UI di Salemba. “Saya setiap hari lewat ruang mayat RSCM,” cerita Osbin. Sampai di kampus pun keringat membasahi sekujur tubuhnya.

Tak cukup hanya S-2, Osbin terus mengejar jenjang pendidikan tertinggi. Meskipun dalam segala keterbatasan toh Osbin berhasil meraih gelar doktor Ilmu Politik dari UI. “Semua gelar pendidikan saya itu berkat bantuan banyak orang,” ujar Osbin.

Meskipun mendapat bantuan dari berbagai pihak, di sela-sela kuliah, Osbin tetap bekerja. Pada 2004, ia dipaksa masuk sebagai pegawai negeri sipil Bimas Katolik Kementerian Agama RI. Lolos tes, Osbin pun tercatat sebagai PNS di Bimas Katolik.

Masuk DKPP
Pada 2008, lahir Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu). Saat itu, Nur Hidayat Sardini terpilih sebagai Ketua Bawaslu. Nur Hidayat adalah kawan satu kelas dengan Osbin saat kuliah di UI. Suatu hari, Osbin berniat mengunjungi rekannya ini untuk mengucapkan selamat. Tak disangka, dalam pertemuan yang singkat itu, Osbin ditawari membantu Nurhidayat di Bawaslu. Tak membuang kesempatan, Osbin langsung mengiyakan tawaran itu.

Osbin didaulat menjadi Humas Bawaslu. Statusnya sebagai pegawai Kementerian Agama yang dipekerjakan di Bawaslu. Mula-mula Osbin tak mengerti bidang pekerjaan ini. Maklum, ini bukan bidangnya. Tapi Osbin bertekad untuk belajar. Ia pun mulai membolak-balik segala peraturan tentang Pemilu. Siang malam, ia belajar tentang seluk-beluk Pemilu. “Kalau ada wartawan atau masyarakat yang bertanya tentang Pemilu di Indonesia, saya harus bisa jawab semua,” tekadnya dalam hati. Semua itu ia buktikan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*