Artikel Terbaru

Menjaga Ibu Bumi, Rahim Kehidupan

[thecharitypost.com]
Menjaga Ibu Bumi, Rahim Kehidupan
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada Minggu, 5 Juni 2016, Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo mengeluarkan surat gembala yang bertajuk “Menjaga Ibu Bumi, Rahim Kehidupan”. Surat gembala ini disampaikan sebagai pengganti khotbah dalam Misa Sabtu-Minggu, 4-5 Juni 2016. Berikut salinannya:

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum Muda, Remaja, dan Anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

Setiap 5 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Peringatan ini dimulai tahun 1971 sebagai tindak lanjut konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang lingkungan hidup pada 5-7 Juni 1970. Kegiatan ini diadakan untuk mengajak semua orang agar sungguh peduli pada lingkungan hidup. Gereja, yang adalah kita semua, sebagai bagian dari masyarakat dunia, sudah seharusnya menanggapi ajakan itu secara aktif dan nyata.

Konferensi PBB tahun 1970 itu didasari keprihatinan akan makin rusaknya lingkungan hidup. Sekarang, setelah 46 tahun, kondisi lingkungan hidup tidak lebih baik. Bahkan, kondisi itu menjadi lebih buruk, termasuk di Indonesia dan khususnya di Jakarta. Di Indonesia, kehancuran lingkungan semakin dirasakan dengan hancurnya hutan-hutan tropis yang merupakan paru-paru dunia. Menurut data dari pengamat masalah Kehutanan (Forest Watch) Indonesia, sampai tahun 2000-an ada sekitar 10 juta hektar hutan di Indonesia hancur. Ada pula yang berganti wajah menjadi perkebunan monokultur. Kehancuran ini juga tampak jelas dalam pengusahaan tambang yang tidak mempedulikan perbaikan lingkungan. Kondisi laut di Indonesia pun–di banyak tempat–sangat memprihatinkan. Bukan hanya karena hancurnya terumbu karang, tetapi juga karena polusi laut oleh sampah-sampah yang bertaburan merusak kehidupan laut dan akhirnya merugikan kita semua. Gambar kehancuran itu masih bisa diperpanjang lagi.

Di Jakarta, wajah lingkungan tak kalah muram. Ada tiga jenis polusi yang merusak Jakarta. Polusi udara terjadi karena jumlah kendaraan bermotor yang tidak terkontrol, selain karena polusi dari pabrik-pabrik di sekitar Jakarta. Menurut data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, sampai tahun 2014 ada 13 juta sepeda motor dan sekitar 4,5 juta mobil di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, yang juga sangat terasa adalah polusi air. Polusi air tanah tidak hanya terjadi oleh bakteri coli dari septic tank yang tidak terkelola dengan baik, tetapi juga oleh perembesan air laut ke dalam lapisan tanah yang semakin meluas karena penyedotan air tanah secara berlebihan. Polusi air ini pun makin jelas dengan kotornya sungai-sungai di Jakarta oleh sampah, khususnya sampah plastik dan styrofoam. Tidak ada satu pun dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta bisa dikatakan bersih. Sampah plastik dan styrofoam itu pula yang menjadi sumber polusi tanah karena plastik dan styrofoam membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa hancur. Perlu diketahui bahwa dari 8.000 ton sampah yang dihasilkan penduduk Jakarta setiap harinya, kira-kira 1.000 ton adalah sampah plastik dan styrofoam.

Sebenarnya, lingkungan hidup yang semakin hancur itu adalah cermin dari ketidakpedulian kita, yang merupakan cermin dari kurang dalamnya iman. Paus Fransiskus, dalam Ensiklik Laudato Si’ yang dikeluarkan pada 18 Juni 2015 lalu, dengan kata-kata yang keras mengatakan bahwa ketidakpedulian itu adalah bagian dari keserakahan; dan keserakahan adalah salah satu bentuk dosa ekologis. Karena itu, pertobatan ekologis menjadi sebuah keharusan bagi umat beriman. Menurut Paus, keterlibatan kita untuk menjaga lingkungan adalah sebuah keharusan iman, bukan sekadar pilihan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*