Artikel Terbaru

Perak Trio Sulung STSP Pematangsiantar

Perak Trio Sulung STSP Pematangsiantar
1 (20%) 1 vote

Kagum Figur Romo
Rasa syukur juga dirasakan oleh Romo Piet. Bersyukur adalah ungkapan yang paling tepat dalam menjalani panggilan sebagai seorang imam, kata mantan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Tanjungkarang ini. Dulu tak ada di benaknya untuk menjadi imam. Kala itu, ia hanya kagum dengan figur Romo H.J. Sondermeijer SCJ, misionaris Dehonian yang sempat berkarya di Paroki St Antonius Padua Bidaracina Jakarta Timur pada 1977-1989.

Piet muda begitu terpesona oleh figur Romo Sondermeijer. Di mata Piet, Romo Sondermeijer merupakan pribadi yang amat ramah kepada siapa saja. Teladan hidup itu membuat Piet tergerak mengikuti jejak sang idolanya. “Saya bersyukur dipanggil Allah menjadi imam. Merasakan tempat baru (STSP–Red) dan bisa belajar banyak karena belum tahu apa-apa dan belum ada yang dipanuti,” kata imam kelahiran Wates, Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah, 10 Maret 1962 itu.

Romo Piet mengenang, awal mula tempat pembinaan imam diosesan adalah di Parapat, Sumatera Utara. Waktu itu mereka indekos di rumah warga, sehingga bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Hal itu baginya menjadi pengalaman nan indah, bahkan istimewa dalam panggilan.

Saat berjumpa dengan pelbagai tantangan di ladang karyanya, Kepala Paroki St Thomas Sribawono, Lampung Timur ini selalu mengingat pesan St Yohanes Maria Vianney (1786-1859). “Jangan pernah beranggapan bahwa tak ada hasil berarti yang telah dicapai di Paroki, betapapun nampaknya segala upaya yang telah dijalankan bertahun-tahun belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Dan para imam, jangan pernah beranggapan bahwa telah melakukan usaha yang cukup, betapapun berartinya hasil yang telah dicapai,” begitu kata St Vianney.

Takkan Meninggalkan
Romo Basuki mengakui, sesudah seperempat abad hidup sebagai seorang imam, ia kadang diliputi rasa cemas. Namun, ia selalu yakin, Allah memanggilnya. Allah juga yang sudah, sedang dan selalu akan menguatkannya dalam segala proses yang dijalani.

Tiga sahabat itu pun berbagi sukacita dalam Perayaan Misa Pesta Perak Imamat yang dipimpin oleh Mgr Yohanes Harun Yuwono di Gereja St Thomas Rasul Bandar Sribhawono, Lampung Timur, pada awal April lalu. Romo Basuki dan Romo Piet mendaulat Romo Totok untuk berkotbah. Dalam khotbahnya, ia mengakui, perjalanan selama 25 tahun imamat bukanlah suatu yang mudah, jika mengandalkan diri sendiri. “Tetaplah berpegang kepada Dia yang memanggil. Sebab, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang dipilih-Nya,” demikian Romo Totok.

Nicolaus Heru Andrianto/Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 21 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 22 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*