Artikel Terbaru

Srini Maria Margaretha: Pendamping Petani Lereng Merapi

Srini (memakai caping) mendampingi anak-anak yang berkunjung ke kebunnya.
[Anton Wijayanto]
Srini Maria Margaretha: Pendamping Petani Lereng Merapi
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPurnakarya sebagai guru, perempuan ini bertekun di dunia cocok tanam. Hasil kebunnya sempat diekspor ke mancanegara. Kini, siapapun boleh belajar bertani bersamanya.

Srini terlihat sibuk melayani para tamu yang bertandang ke kebunnya. Hampir setiap hari, perempuan bernama lengkap Srini Maria Margaretha ini menemani para pengunjung berkeliling di kebun. Warga Dusun Gowok Ringin, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini menjawab satu per satu pertanyaan yang dilontarkan para pengunjung.

Dusun Gowok Ringin terletak di lereng Gunung Merapi. Para pengunjung itu tak hanya berasal dari Magelang dan sekitarnya. Mereka datang dari pelbagai daerah di Indonesia. Tak puas hanya sehari, beberapa pengunjung bahkan live-in di tempat Srini. Mereka ingin belajar tentang pertanian kepada Srini. “Saya senang banyak orang yang ingin belajar ke sini,” ujar Srini.

Bangunan Rumah Srini memang tak begitu besar, sekitar rumahnya dikelilingi kebun seluas 2500 meter persegi. Di kebun ini aneka ragam sayuran, sawi, pokcoy, peterseli, tomat, cabai, loncang, seledri, pare, labu, dan yang lain, tumbuh subur. Ada pula aneka tanaman buah, seperti stroberi, rikaya, mangga, jeruk, sawo, dan jambu. Sementara di belakang rumah terdapat kandang kambing dan sapi. Semua itu dikelola dengan sistem pertanian dan peternakan organik, tanpa pupuk dan pakan kimia olahan pabrik.

Menjadi petani
Mula-mula Srini sama sekali tak tertarik dengan dunia pertanian. Dunia cocok tanam bukanlah dunianya. Baru setelah memasuki masa purnakarya, istri Sukamto Lexi Wibowo Y.B ini menekuni dunia pertanian. Ia adalah pensiunan guru.

Setelah lulus dari jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar Magelang, Srini menekuni profesi sebagai guru. Ia pernah tercatat sebagai guru Taman Kanak-Kanak di Muntilan dan mengajar di sebuah sekolah menengah atas di Magelang. Setelah purnakarya sebagai guru, Srini sempat menjadi pendamping wisata live-in. Suatu ketika, ia bertemu dengan petugas dari Dinas Pertanian. Dari pertemuan ini terbersit dalam hati Srini untuk banting setir menjadi petani.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*