Artikel Terbaru

Dilengserkan sebagai Paus dan Dibuang

Dilengserkan sebagai Paus dan Dibuang
1 (20%) 1 vote

Masa Pembuangan
Kaisar Konstans II lalu mengutus Theodorus Calliopas, sebagai pengganti Olympius untuk membawa Paus Martinus I ke Konstantinopel. Pada 15 Juni 653, Calliopas masuk Roma dan dua hari kemudian tiba di Basilika St Yohanes Lateran untuk menangkap Bapa Suci. Lalu ia mengumumkan, Paus telah diturunkan dari takhta karena melawan kaisar pada 18 Juni 653.

Setelah itu, kaisar meminta agar Paus Emeritus dibawa ke Konstantinopel dan segera dipilih penggantinya. Pengumuman ini memancing kemarahan klerus dan rakyat Roma. Mereka pun siap berperang membela Bapa Suci.

Melihat situasi itu, Bapa Suci berusaha menghindari pertumpahan darah di Kota Abadi. Ia pun menyediakan diri dibawa ke Konstantinopel, meredam kemarahan klerus dan rakyat Roma. Calliopas pun menggelandang Paus Emeritus dan memperlakukannya sebagai tawanan. Penderitaan fisik dan psikis ditanggungnya dengan lapang dada. Rombongan itu tiba di Konstantinopel pada 17 September 654 karena mereka singgah di Pulau Naxos (Kepulauan Cyclades di Laut Aegea, Yunani) selama setahun.

Di Konstantinopel, Paus Emeritus dipenjarakan di Prandearia selama 93 hari. Ia dibiarkan kelaparan, kehausan, kedinginan, dan terus disiksa. Penderitaan itu tak sedikitpun menyurutkan imannya. Pada 19 Desember 654, ia dihadapkan pada Dewan Senat Istana untuk diadili. Berbagai dakwaan mulai yang politis hingga religius dituduhkan. Mereka memaksanya tunduk pada kaisar. Jika ia mau menyetujui dan menandatangani Typus Kaisar, mereka berjanji akan merestorasi takhtanya. Dengan tegas, tawaran itu ia tolak. Ia lalu dijebloskan lagi di penjara Diomede selama 85 hari.

Setelah itu, kaisar memerintahkan para prajurit mengasingkannya ke Taurica Chersonesus (kini Cherson, Crimea bagian Selatan, Ukrania). Ia dibawa dengan kapal pada 26 Maret 655 dan sampai di pembuangan pada 15 Mei 655. Kala itu, Cherson dilanda kelaparan. Di situlah Paus Emeritus Martinus I menghabiskan sisa hidupnya. Dalam derita fisik dan psikis, ia tak pernah mengeluh dan memegang teguh imannya. Ia wafat pada 16 September 655 dalam kondisi yang amat memprihatinkan. Jazadnya dimakamkan di Gereja St Maria Blachernae, Cherson. Pada masa selanjutnya, relikui martir besar ini dipindahkan ke Roma dan disemayamkan di Gereja San Martino ai Monti, Roma.

Berkat imannya, konon sudah terjadi berbagai mukjizat kala Paus Emeritus ini masih hidup. Berbagai kesaksian mukjizat berkat perantaraan doanya makin banyak terjadi pasca wafatnya. Ia dihormati sebagai Santo dan martir karena wafat demi membela iman. Gereja Katolik merayakan pestanya tiap 12 November, tanggal di mana relikuinya dipindahkan dari Cherson ke Roma. Sementara itu, Gereja-Gereja bertradisi Yunani ada yang memperingatinya pada 13 April; pun pada 15 dan 20 September.

R.B.E. Agung Nugroho

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 21 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 22 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*