Artikel Terbaru

Calon Suami Sudah Menikah Siri

Calon Suami Sudah Menikah Siri
1 (20%) 1 vote

Pastor Dr Al. Purwa Hadiwardaya MSF:
Saya memahami inti masalah yang Asteria sampaikan. Meskipun demikian, saya toh belum memahami seluruh permasalahan. Maka, tanggapan saya ini saya dasarkan pada beberapa pengandaian.
 
Pertama, pacar Asteria mengaku telah nikah siri. Dalam Islam, nikah siri berarti nikah sah bagi agama tetapi belum dicatat di kantor yang ditunjuk oleh negara. Menurut agama Islam, perkawinan itu sah. Menurut negara, perkawinan itu belum sah. Yang bagi saya aneh, mengapa pacar Asteria menjalankan nikah siri? Apakah waktu itu dia beragama Islam? Atau, istrinya yang beragama Islam?
 
Kedua, kalau waktu nikah siri itu pacar Asteria sudah dibaptis sebagai seorang Katolik, maka menurut Gereja Katolik nikah siri yang dilakukannya itu jelas-jelas bukan perkawinan sah. Apalagi, perkawinan itu telah terjadi karena adanya paksaan dari keluarga besar. Maka, kalau pacar Asteria itu mau menikah dengan Asteria, cukuplah kalau dia bercerai dari istrinya di hadapan pengadilan agama Islam atau bercerai sesuai adat Batak.
 
Ketiga, kalau pacar Asteria itu benar-benar mau menikah dengan Asteria, dia harus berpisah baik-baik dulu dari istrinya. Barangkali pastor paroki akan menyelidiki, sejauh mana pihak keuskupan merasa perlu mengeluarkan surat keputusan yang tegas, yang menyatakan bahwa perkawinan pacar Asteria yang terdahulu itu (menurut Gereja Katolik) jelas-jelas merupakan perkawinan yang tidak sah. Setelah itu, barulah dia dapat menikah secara Katolik dengan Asteria.
 
Keempat, kalau Asteria memang mantap mau menikah dengan dia, sebaiknya Asteria lakukan dulu langkah-langkah pokok berikut: selidikilah, sejauh mana pengakuan pacar Asteria itu sesuai dengan kenyataan; periksalah, nikah siri yang dia lakukan dulu itu dilaksanakan secara Islam atau secara adat; selidikilah, apakah saat menikah siri itu dia sudah dibaptis sebagai orang Katolik; selidikilah, apakah pernikahan siri itu benar-benar belum dicatat di kantor yang ditunjuk oleh negara untuk urusan itu.
 
Kelima, Gereja Katolik tidak melarang Asteria menikah dengan dia secara adat. Tetapi, Asteria harus sadar bahwa pernikahan secara adat itu tidak punya dampak yuridis bagi negara maupun bagi Gereja. Maka, setelah urusan dia dengan istrinya yang pertama itu sudah selesai menurut budaya Batak dan Gereja, Asteria dan dia harus menikah secara Katolik di hadapan seorang pastor dan dua saksi.
 
Keenam, tentang anak tadi, Asteria harusl membicarakan secara mendalam dan terus terang dengan dia. Yang penting, kalian berdua punya komitmen yang sama sebelum menikah, agar kelak tidak muncul masalah tentang anak tadi.
 
Sebagai tambahan, berikut adalah beberapa prinsip hukum perkawinan katolik yang mendasar.
 
Pertama, perkawinan antara dua orang bukan Katolik dianggap sah oleh Gereja Katolik bila perkawinan itu memenuhi tiga syarat berikut: didasarkan pada janji-nikah yang benar dan bebas; diawali dengan upacara nikah di hadapan dua orang saksi dan seorang pejabat yang berwenang menikahkan; bebas dari halangan-halangan kodrati (yakni, ikatan nikah sah sebelumnya; impotensi yang tak tersembuhkan; hubungan saudara kandung).
 
Kedua, perkawinan seorang Katolik dengan siapa pun dianggap sah oleh Gereja Katolik bila perkawinan itu memenuhi tiga syarat berikut: didasarkan pada janji nikah yang benar dan bebas; diawali dengan upacara nikah di hadapan dua saksi dan seorang imam Katolik; bebas dari halangan-halangan kodrati dan gerejani (seperti tertulis dalam Kitab Hukum Gereja Katolik).
 
Ketiga, perkawinan yang menurut negara atau agama lain sah, belum pasti diakui sebagai perkawinan sah oleh Gereja Katolik. Maka, pernikahan siri yang menurut agama Islam adalah perkawinan sah, menurut Gereja Katolik belum pasti merupakan perkawinan sah.
 
Keempat, perceraian yang menurut negara atau agama lain sah belum pasti diakui sebagai perceraian sah oleh Gereja Katolik. Maka, suami-istri yang telah diceraikan oleh negara atau agama lain belum pasti diakui oleh Gereja Katolik sebagai orang yang sudah bercerai.
 
Kelima, menurut Gereja Katolik, pada dasarnya yang berhak menegaskan bahwa sebuah perkawinan tidak sah (menurut hukum Gereja Katolik) hanyalah pihak keuskupan (tepatnya: Pengadilan Gerejani tingkat Keuskupan). Maka, barangkali pihak keuskupan sajalah yang dapat menegaskan perihal sah atau tidaknya pernikahan siri pacar Asteria, sebelum Asteria dapat menikah dengan si dia!
 
Tuhan memberkati!
 
Drs Haryo Goeritno MSi dan Pastor Dr Al. Purwa Hadiwardaya MSF

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*