Artikel Terbaru

St Yohanes dari Kęty: Teolog dan Fisikawan Hebat

St Yohanes dari Kęty: Teolog dan Fisikawan Hebat
1 (20%) 1 vote

Jan kecil sangat memperhatikan hidup rohaninya. Semangat doanya menumbuhkan benih panggilan selibat. Jan ingin menjadi imam. Usai menerima Komuni Pertama, ia menyatakan niatnya kepada orangtua. Sang ayah tak merestui cita-cita putranya. Stanisław sudah bermimpi, Jan akan meneruskan profesinya. Tunas panggilan Jan kian tumbuh pesat. Melihat usaha Jan, Stanisław urung. Alih-alih berang, ia justru sadar telah memaksakan kehendak pribadi pada putranya. Stanisław akhirnya merestui Jan.

Setamat pendidikan di Kęty, Jan masuk seminari di bawah asuhan para Jesuit di Kraków, lalu melanjutkan pendidikan di Universitas Jagiellonian, Kraków hingga memperoleh gelar Doktor Teologi. Kemudian ia ditahbiskan imam. Kecerdasan Pater Jan menuntunnya mendapat tugas perdana sebagai dosen Teologi dan Kitab Suci sekaligus Rektor Sekolah Kanon Reguler Makam Suci di Micehow, Polandia, sebuah sekolah yang mengadopsi spiritualitas St Agustinus dan diakui secara resmi oleh Paus Innocentius VIII (1432-1492).

Pastoral Dialog
Banyak orang kagum pada kecerdasan dan kebijaksanaannya. Selain teologi dan Kitab Suci, Pater Jan menguasai Fisika. Dalam Fisika, ia membantu mengembangkan teori Jean Buridan (1295-1363) mengenai hukum daya dorong yang dirumuskan Isaac Newton dari karya Galileo Galilei.

Kecerdasan itu membuat sebagian koleganya merasa iri. Berbagai cara ditempuh untuk menjegalnya. Usaha-usaha penjegalan pun berbuah. Pater Jan dituduh mengajarkan ajaran sesat. Ia lalu dipindahkan ke Paroki Olkusz, sebuah gereja kecil di Keuskupan Sosnowiec, Kraków. Keputusan ini mendatangkan luka mendalam di hati Pater Jan. Ia merasa seperti “ditendang” oleh para sahabatnya. Situasi ini diperparah dengan penolakan umat Olkusz pada dirinya. Ia melukiskan perasaannya ketika pertama kali tiba di Olkusz, “Aku gugup dan takut akan tugas ini. Semua sendi tulang-tulangku lemas atas penolakan itu.”

Kendati demikian, Pater Jan mencoba berdamai dengan hatinya. Ia tahu, hanya ada satu jalan yang bisa memperbaiki keadaan, yakni dialog. Ia harus membangun dialog kasih dan meyakinkan umat. Alhasil, dua tahun pelayanannya, Paroki Olkusz menjadi hidup dan orang-orang yang dulu memusuhinya kini bersahabat.

Michael Miechowita, sejarawan Polandia Abad Pertengahan melukiskan kerendahan hati Pater Jan sesuai moto pelayanannya, Conturbare cave: non estplacare suave, Infamare cave; nam revocare grave (Hati-hati mengganggu karena itu tidak menyenangkan. Hati-hati berbicara kotor, itu akan memberatkan Anda). Michael menulis, “Kerendahan hatinya langka. Kesederhanaannya seperti anak kecil. Tak ada penipuan dan dusta. Apapun yang keluar dari mulutnya, itulah yang ia praktikkan.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*