Artikel Terbaru

St Eulalia dari Mérida: Martir Muda dari Barcelona

St Eulalia dari Mérida: Martir Muda dari Barcelona
1 (20%) 1 vote

Konon, ayah Eulalia adalah seorang senator Romawi. Tetapi Eulalia seakan tumbuh tanpa mempedulikan status sang ayah. Ia sering mengungkapkan imannya akan Kristus di muka umum tanpa canggung. Tak heran jika banyak orang mengenalnya sebagai gadis Kristen yang saleh. Nilai-nilai Kristiani seperti cinta kasih dan kerendahan hati seolah terpancar dalam dirinya dan membuatnya berani menceritakan tentang imannya kepada teman-teman sepermainan.

Menginjak remaja, Eulalia mulai mengenal kebobrokan hidup para bangsawan. Kehidupan istana penuh dengan maksiat. Mereka bergelimang harta, senantiasa pesta pora dan bermain wanita. Situasi ini amat memuakkan bagi Eulalia. Ia pun membatasi pergaulannya. Wajar bila sikapnya itu membuat banyak remaja laki-laki yang sama sekali tak menaruh perhatian padanya. Padahal wajah Eulalia tak kalah manis dengan gadis-gadis di Mérida.

Kemuakannya memuncak menjadi kebencian kepada sang kaisar. Kala itu, Kaisar Diocletianus mengeluarkan titah, semua orang – baik muda maupun tua, kaya dan miskin – wajib mempersembahkan kurban kepada dewa-dewi Romawi. Keputusan ini membuat orang-orang Kristen berbondong-bondong mencari perlindungan di desa-desa terpencil, bahkan di hutan-hutan. Bila ada yang berani menentang, nasibnya di ujung tombak dan pedang algojo Romawi.

Semenjak titah ini dimaklumkan, banyak orang menjadi penyembah berhala. Hidup bak robot dengan menjalankan seluruh perintah kaisar. Banyak orang Kristen merasa kebebasannya direnggut demi patung-patung Venus dan Apolos. Situasi ini mendatangkan kepanikan bagi orangtua Eulalia. Sang ibu menyembunyikannya di sebuah desa di dekat Sungai Albarregas, wilayah Mérida dengan harapan aman dan luput dari kejaran Diocletianus. Namun Eulalia merasa imannya perlu diungkapkan secara pantas. Menjadi orang Kristen tidak harus bersembunyi pada saat Gereja dikejar-kejar dan dianiaya. Seorang Kristen harus keluar menyebarkan iman, meski nyawa taruhannya.

Menentang Kaisar
Alih-alih bersembunyi, Eulalia malah mendatangi istana kaisar guna bertemu Diocletianus. Di hadapan kaum penyembah berhala, ia menghina dewadewi yang diamini sebagai pelindung Romawi. Ia melontarkan sumpah serapah kepada Kaisar Diocletianus. Menurutnya, ketetapan kaisar telah menggebiri iman orang Kristen. Karena itu, ia pun dengan berani mengumumkan, “Saya pengikut Kristus dan tidak akan menyembah berhala!”

Kaisar Diocletianus terus memaksa Eulalia melupakan imannya. “Kamu akan dilepaskan setelah kamu menyentuh sedikit garam dan kemenyan yang digunakan untuk penyembahan dewa-dewi Romawi,” kata Diocletianus. Kaisar pun memberinya roti dan makanan sebagai persembahan kepada dewa-dewi. Namun Eulalia justru membuang persembahan itu dan meludahi wajah Diocletianus. Tindakannya ini sontak membuat Diocletianus naik pitam.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*