Artikel Terbaru

Mereka Harus Kita Kasihi

Mereka Harus Kita Kasihi
1 (20%) 1 vote

Catatan, praktis selama lebih dari 30 tahun (1978-2013) ajaran Gereja ditentukan oleh dua orang. Paus Yohanes Paulus II (1978-2005) dan orang kepercayaannya, Kardinal J. Ratzinger yang menjadi Kepala Kongregasi Ajaran Iman (1981-2005) yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI (2005-2013).

Dengan sikap keras itu, Paus Fransiskus melihat wajah Gereja yang kurang mengedepankan sifat Tuhan yang maharahim dan kurang menampilkan agama Katolik sebagai kabar gembira yang membebaskan. Oleh karena itu Paus Fransiskus mengambil sikap positif dengan pewartaan yang lebih seimbang, teladan hidup sederhana, serta mengutamakan pelayan dan orang miskin.

Bagaimana sikap Paus Fransiskus menyikapi fenomena homoseksualitas ini?

Dalam menyikapi homoseksualitas dan LGBT, Paus Fransiskus membuat sikap pastoral yang mengedepankan Kerahiman Tuhan. Bahkan dalam beberapa pidatonya, Paus Fransiskus juga mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan dan sensasional: “Bila orang homoseksual dan mencari Tuhan, siapakah saya untuk mengadilinya? Orang-orang ini tak boleh mengalami diskriminasi dan dikucilkan. Mereka adalah saudara-saudara kita.”

Paus Benediktus XVI menyatakan pendapatnya melawan teori gender dan homoseksualitas (misalnya Desember 2008 dan 2012). Kita bingung? Bukan hanya kita. Sebaiknya kebingungan tak dibiarkan saja. Paling sedikit untuk sementara (saya mengakui keterbatasan saya) dapat saya katakan ini: Juga dalam penilaian moral yang memperhatikan sifat campuran dengan data ilmu yang dinilai perlu diperhatikan “hierarchia veritatum”, yakni gradasi kebenaran iman yang diajukan. Kiranya harus dibedakan antara penilaian moral dan sikap pastoral.

Sikap dari penilaian keras tak harus ditarik sikap yang keras pula. Berkalikali Paus Fransiskus mengingatkan perlunya penegasan (discernment) dan memperhatikan keadaan manusia dalam penerapan prinsip yang tak begitu saja dikenakan pada orang yang sering berada dalam keadaan yang amat sulit.

Paus Benediktus XVI telah menjalani hidup akademis dan bergumul dengan banyak teori serta prinsip-prinsip perkuliahan, dan mungkin tak pernah menjumpai orang homoseksual. Paus Fransiskus telah menjalani hidup pastoral dan menemui banyak orang yang sering berjuang dalam situasi terjepit. Ia juga konkret bergaul dengan orang homoseksual.

Apabila dalam keluarga kita ada anggota yang menjadi LGBT, bagaimana kita harus menyikapinya?

Keluarga harus menyikapi anak “homo” dengan terus mencintai sepenuhnya dan membantu menerima diri mereka seperti adanya. Untuk hal integrasi, sejauh perlu mereka juga disiapkan untuk hidup dalam masyarakat dan dibantu menjalani hidup sebagai anggota Gereja.

A. Nendro Saputro

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 24 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*