Artikel Terbaru

LGBT, Kegelisahan di Tengah Masyarakat

LGBT, Kegelisahan di Tengah Masyarakat
1 (20%) 1 vote

Berbagai penyebab
Dokter spesialis jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya-Jawa Timur (1996), dr KRAT Th. A. Hendro Riyanto Husododiningrat memaparkan istilah lesbian, gay dan biseksual tidak lagi dikenal di dalam Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJI) yang ke 3. Dalam UU Kesehatan Jiwa No. 18 Tahun 2014, kelompok ini dikategorikan sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) yang memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Mereka yang homoseksual egodistonik, yang mengalami kehidupan homoseksual tetapi merasa tidak nyaman atau sakit masuk dalam PPDGJI ke-3. Sementara transeksualisme atau transgender masih ada dalam PPGDJI ke-3 sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Fenomena yang muncul akhir-akhir ini dikarenakan mereka cenderung meminta persamaan hak dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut saya tidak masalah seandainya hanya sebagai insan manusia yang menginginkan hidup berdampingan, tetapi tidak menuntut adanya pernikahan sejenis yang tidak sesuai dengan norma-norma keagamaan yang berlaku. Juga adanya kecenderungan untuk mengajak para remaja kita bergabung ke dalam komunitasnya,” papar Direktur RSJ Menur Surabaya (2008-2011) ini.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan LGBT. Misalnya biologi, hormonal, genetik dan lingkungan. “Kalau yang karena pengaruh lingkungan harusnya bisa disembuhkan dengan Cognitive and Behavioral Therapy. Hal ini diperlukan dukungan dari keluarga terdekat maupun lingkungan yang mendukung untuk memotivasi pemulihannya,” ujar dr Hendro Riyanto yang saat ini juga menjadi dosen/Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran, Unika Widya Mandala Surabaya (2014-sekarang).

Psikolog anak dan keluarga, Maria Teresia Suhati Kurniawati mengatakan fenomena LGBT bisa juga terjadi karena pengalaman traumatik misalnya mengalami pelecehan seksual ketika masa kanak-kanak dan remaja, pengalaman terkait seks yang membuat syok, menonton film porno, atau dibesarkan dalam lingkungan “tidak normal” seperti di lokalisasi. Kecenderungan gay bisa terjadi pada seseorang yang dibesarkan dalam keluarga di mana sosok laki-laki dewasa sebagai tokoh identifikasi tidak ada. Sementara kecenderungan lesbian kadang muncul pada keluarga yang orangtuanya tidak harmonis, terutama jika ayah memperlakukan ibu secara tidak baik, misal dengan kekerasan.

Menurut Ineke, sapaannya, seseorang yang terlanjur mempunyai kecenderungan LGBT tidak bisa “menghilangkan” kecenderungan ini. “Mereka yang terlanjur mengalami kecenderungan LGBT, membawa itu seumur hidupnya. Kecenderungan itu suatu saat tetap bisa muncul, meskipun mereka memutuskan untuk menikah dengan lawan jenis. Namun ini tidak selalu muncul dalam perilaku. Semuanya tergantung komitmen mereka, bagaimana mereka mengelola diri, menempatkan diri, mengetahui dan memahami trauma yang pernah dialaminya serta bisa mengelola pengalaman buruk, negatif dan memaknainya secara positif dalam hidupnya,” jelas dosen psikologi sosial di STF Diyarkara Jakarta ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*