Artikel Terbaru

Kristianto R M Naben SVD: Dirampok dan Disiksa di Tanah Misi

Kristianto R M Naben SVD: Dirampok dan Disiksa di Tanah Misi
3 (60%) 2 votes

Romo Cristiano terus mendapat intimidasi. Perampok bertubuh mungil itu bergerak ke laci lemari arsip. Rupanya dia sudah tahu, mereka menyimpan uang di sana. Belum puas dengan yang didapat, seorang di antara mereka mendekati Romo Cristiano. Dia bertanya kepadanya, di mana lagi mereka menyimpan uang.

“Tak ada lagi. Hanya itu yang kami punya,” jawab Romo Cristiano singkat.

Mereka juga menanyakan keberadaan Romo Danilo. Romo Cristiano, sambil menahan getir, mengungkapkan, Romo Danilo tak ada di tempat. Dalam hati dia berguman, ternyata mereka sudah mengamati dan mengincar pastoran sejak lama. Dengan suara pelan, para perampok mengancam akan membunuhnya, jika tidak menunjukkan brankas.

Romo Cristiano pasrah. Dia mempersilakan mereka mencari uang di kamar-kamar. Ada tiga kamar tidur di lantai atas. Mereka melepas ikatan di kaki Romo Cristiano, menggiringnya ke kamar dengan kepala tertunduk. Romo Cristiano membuka laci lemari pakaian. Diambilnya sebuah tas tangan. Mereka merebut tas itu dan mengambil uang di dalamnya.

Romo Cristiano dipaksa tiarap lagi. Mereka menutup kepalanya dengan celana pendek. Para perampok belum puas. Mereka kembali bertanya kepadanya, di mana brankas uang di simpan. Kata seorang dari mereka, dulu dia sempat melihat brankas itu disembunyikan di kolong tempat tidur, tapi benda itu tak ada lagi. “Di ma na brankas itu sekarang?” hardik si perampok.

Rupanya pelaku yang sama yang datang ke pastoran pada Desember tahun lalu. Maka nya dia tahu betul seluk beluk pastoran. Mereka mulai marah. Laras revolver ditodongkan kembali ke belakang kepala Romo Cristiano. Tak puas dengan itu, mereka masukkan moncong pistol ke dalam mulut korbannya.

Romo Cristiano kian ketakutan. Mereka mengancam segera membunuhnya. Kepala dan rusuk gembala malang itu lagilagi ditendang berulang kali. Punggungnya di injak-injak hingga sulit bernapas. Mereka mengobrak-abrik seluruh barang di kamar-kamar. Litani intimidasi dan kekerasan terus dilancarkan para perampok, demi menguras brankas uang yang mereka inginkan.

Makin Brutal
Aksi para perampok kian brutal. “Saya ini Pastor; sumpah demi Tuhan! Saya sudah bilang yang sebenar-benarnya. Tidak ada brankas,” jelasnya meyakinkan mereka. Para perampok tetap tak percaya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*