Artikel Terbaru

Beato Jacob Gapp SM (1897-1943): Martir Guillotine, Korban Nazi

Beato Jacob Gapp SM (1897-1943): Martir Guillotine, Korban Nazi
1 (20%) 1 vote

Pro Paus
Setelah dibebaskan, Jacob kembali ke Austria. Ia melanjutkan mimpi menjadi imam. Ia mulai belajar tentang Serikat Maria (Society of Mary, SM) dari seorang kerabatnya. Ia kemudian mengikuti pendidikan persiapan masuk SM pada 13 Agustus 1920, dan akhirnya memulai novisiat pada 26 September 1920 di Greisinghof, Austria. Awal masuk asrama, ia sangat kaku dalam mengikuti aturan biara. Beruntung
pengalaman disiplin kala ikut wajib militer membuat dia sedikit demi sedikit bisa menyesuaikan diri.

Pater Emile Neubert SM, pimpinan komunitasnya memberi kesaksian, “Jacob seorang yang tidak mudah putus asa. Seorang pribadi yang sangat mengandalkan Tuhan.” Jacob mengikrarkan kaul pertama pada 27 September 1921, dan ditahbiskan menjadi imam pada 5 April 1930 di Katedral St Nicholas oleh Uskup Agung Lausanne, Genève dan Fribourg, Swiss, Mgr Marius Besson (1876-1945). Usai ditahbiskan, Jacob melanjutkan studi ke Marian Istitute di Graz, sebagai persiapan menjadi Direktur Pendidikan Sekolahsekolah SM di Freistadt, Lanzenkirchen, dan Graz.

Sementara itu, Hitler terus menegakkan kediktatorannya. Ia ingin mendirikan Orde Baru hegemoni Jerman yang absolut di daratan Eropa. Di bawah kendalinya, para tentara Nazi membantai sekitar 50 juta orang, termasuk enam juta kaum Yahudi. Hal ini membuat Paus Pius XI (1857-1939) mengeluarkan Ensiklik Mit Brennender Sorge (Dengan Keprihatinan Mendalam) pada 10 Maret 1937. Ensiklik ini mengecam ideologi rasisme dan totalitarianisme yang diterapkan Nazi.

Berangkat dari ensiklik ini, Pater Jacob mulai menggalang gerakan menentang nasionalis-sosialisme yang diterapkan Nazi. Ia sangat tertarik dengan berbagai propaganda yang menentang Nazi dalam ensiklik ini. Baginya, “Tidak mungkin seorang Kristen anti Yahudi. Sebab melalui dan di dalam Kristus, kita semua adalah keturunan Abraham. Maka secara spiritual, orang Kristen adalah Yahudi.” Tak jarang, Pater Jacob bersuara lantang di depan publik dan menyebarkan daftar pelanggaran untuk mengutuk sikap antisemit. Hal ini membuat tentara Nazi mulai menguntit pergerakannya. Pater Jacob selalu dalam pantauan Nazi.

Demi menyelamatkan diri, Pater Jacob ditarik dari Graz dan ditugaskan di Freistadt. Setahun kemudian, Superior SM mengirim dia kembali ke Tyrol. Tahun 1939, ia diusir dari Paroki St Lawrence Wattens oleh umatnya sendiri karena berkhotbah menentang Nazi. Padahal umatnya ingin hidup aman dari gangguan Nazi. Akhirnya, ia dipindahkan ke Bordeaux, Perancis. Beberapa bulan kemudian, ia hijrah ke Spanyol untuk melayani umat miskin di San Sebastian, Cadiz, dan Valencia.

Martir Guillotine
Meski harus berpindah dari satu kota ke kota lain karena dikuntit tentara Nazi, Pater Jacob tak mau bungkam. Ia terus menebar propaganda menentang Nazi guna mengakhiri kekejaman terhadap sesama manusia. Diam-diam Geheime Staatspolizei atau Gestapo mengendus keberadaan Pater Jacob di Spanyol. Suatu hari, dua orang yang mengaku sebagai orang Yahudi dari Berlin menemui dia. Mereka meminta Pater Jacob mengajarkan agama Katolik kepada mereka. Pater Jacob menyanggupi. Ternyata keduanya adalah intel Gestapo. Mereka berhasil menangkap Pater Jacob di perbatasan Perancis. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Tepat pada Hari Raya Hati Kudus Yesus, Pater Jacob dijatuhi hukuman mati oleh Roland Freisler (1893-1945), Presiden Volksgerichtshof (Pengadilan Rakyat) yang mendukung Nazi. Pukul 19.00, 13 Agustus 1943, Pater Jacob dieksekusi dengan guillotine di Penjara Ploetzensee, Berlin. Jazadnya tak diizinkan untuk dimakamkan oleh keluarga. Para eksekutornya justru mengirimkan ke Institut Anatomi Biologis di Universitas Berlin untuk penelitian, studi, dan kemudian dihancurkan. Salah satu peninggalan yang tersisa adalah cincin emas yang diterima saat ia mengikrarkan kaul. Cincin itu disimpan di Rumah Chaminade, pusat SM di Greisinghof,
Austria.

Pada Hari Raya Hati Kudus Yesus, 26 Juni 1987, Uskup Agung Wina, Austria kala itu, Kardinal Hans Hermann Groër OSB (1919-2003) menginisiasi proses penggelaran kudus Pater Jacob. Pastor Enrique Torres SM ditunjuk sebagai postulator didampingi Pater Josef Leavit SM sebagai wakilnya. Pada 6 April 1995, Paus Yohanes Paulus II mempromulgasikan dekrit kemartiran Pater Jacob dan menggelarinya Beato. Misa beatifikasi digelar pada 24 November 1996 di Basilika St Petrus Vatikan, tepat Hari Raya Kristus Raja. Martir guillotine korban kekejaman Nazi ini diperingati Gereja tiap 13 Agustus.

Yusti H. Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 42 Tanggal 20 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*