Artikel Terbaru

Kreativitas Pastoral Mengamalkan Pancasila

Kreativitas Pastoral Mengamalkan Pancasila
1 (20%) 1 vote

Bagaimana cara mengembangkan Kreativitas Pastoral itu?

Caranya begini, kita perlu menjawab pertanyaan umum, “Apa yang harus kita lakukan supaya lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi?” Kita perlu menjawab pertanyaan itu dengan mengaitkan nilai-nilai Pancasila dan semangat Kristiani. Untuk menjawabnya juga perlu mempertimbangkan dua konteks.

Konteks pertama, adalah konteks fokus pastoral tahun ini “Kerahiman Allah yang memerdekakan”. Dan konteks kedua, adalah konteks daerah setempat atau masing-masing paroki. Kalau umat berdiskusi bersama dalam mencari jawaban tentu akan muncul penegasan bersama sesuai konteks daerah setempat. Misalnya, Paroki A akan menjawab dengan kegiatan radio komunitas, atau Paroki B dengan Credit Union (CU), dll.

Kalau ada paroki yang menghubungkan kegiatan pengalaman Pancasila ini dengan CU apakah boleh? Ya boleh saja, sebab CU dapat memerdekakan orang dari rentenir lewat pendidikan ekonominya. Kalau ada paroki menjawab dengan kegiatan radio komunitas? Maka boleh juga, sebab Kerahiman Allah itu mempersatukan. Ketika orang bersatu dengan sendirinya dia merdeka.

Masalahnya sekarang banyak orang yang tidak punya kepedulian. Melihat masalah di lingkungannya cuek saja. Tapi kalau orang yang punya kompetensi etis, dia akan bertanya “Apa yang harus kita lakukan, ini kok kumuh lingkungan kita?”. Maka kita harus menggugah kepedulian kita bersama.

Saya kemarin baru mendengar dari seorang ahli hukum. Menurutnya ada berapa puluh ribu Peraturan Daerah (Perda) yang berlawanan dengan Undang-Undang. Dalam konteks komunitas politik, seharusnya komunitas itu bisa membuat kegiatan pengamalan Pancasila dengan advokasi mengkritisi Perdaperda itu. Sama juga kalau ngomong tentang situasi nasional. Pemerintah saat ini tiba-tiba ngomong tentang hukuman mati. Ini menyangkut gambaran Allah. Maka jawabannya bisa kegiatan advokasi dalam bidang hukum mengkritisi keputusan itu. Jadi jawabannya konkret sekali. Dan gerakan yang paling baru saat ini yang bisa kita lakukan adalah gerakan “Silih Ekologi”.

Apa itu silih ekologi?

Konkretnya begini. Kalau orang naik pesawat terbang, sebenarnya orang itu bisa dikatakan ikut merusak lingkungan karena polusi yang berasal dari pesawat terbang. Dalam rangka menyadarkan rasa tanggungjawab terhadap lingkungan maka dibuat “silih ekologi”. Jadi, kalau saya naik pesawat terbang maka saya sebaiknya menyisihkan dana sebagai silih ekologi karena ikut merusak lingkungan. Dana silih ekologi ini bisa dikelola untuk pemulihan ekologi yang rusak, misalnya dengan pertanian organik atau untuk menyuburkan tanah tandus, dll.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*