Artikel Terbaru

Indonesia dan Katolik Seratus Persen

Indonesia dan Katolik Seratus Persen
1 (20%) 1 vote

Selain warna Bendera Indonesia, Romo Anton berkisah, Merah Putih juga lambang Darah dan Tubuh Kristus. Ketika berziarah ke Roma, ia melihat ada yang menjual Rosario Merah Putih sebagai lambang Tubuh dan Darah Kristus. Baginya, simbol gerakan RMP ini amat kuat, antusiasme umat pun begitu menggelora.

Gerakan RMP juga dilihat Romo Anton sebagai penanaman kesadaran cinta tanah air. Ia mengamati, banyak anak Indonesia yang belajar di sekolah tertentu yang akhirnya membuat mereka bahkan tak familiar dengan Bahasa Indonesia. “Kita ini orang Indonesia, tinggal di Indonesia, masak tidak bisa Bahasa Indonesia; malah justru mahir berbahasa asing. Mestinya Bahasa Indonesia menjadi “bahasa ibu bagi kita,” kata Romo Anton. Inilah tantangannya, ketika banyak orangtua lebih suka dan bangga anak-anaknya berbahasa asing. Gerakan RMP diharapkan pelan-pelan menumbuhkan jiwa rela berkorban demi bangsa dan negara dalam berbagai hal.

Rosario Hidup
Di Kelapa Gading, umat membentuk Tim RMP dan menggandeng para pecinta Rosario, Legio Mariae dan Persaudaraan Rosario. Pekan pertama, berkumpul 150 orang untuk dibekali katekese, menampilkan video cara membuat RMP yang dibuat oleh Tim RMP Paroki. Hasilnya, 4.000 RMP berhasil dibuat dan dibagikan gratis ke umat pada Misa Pembukaan bulan Maria di Gereja Paroki dan Gereja Stasi Kim Tae Gon. Hingga kini, tim itu memantau perkembangan pembuatan RMP di Lingkungan. “Kami berkumpul seminggu dua kali, Selasa dan Jumat, untuk update target pembuatan RMP. Sumbangan pribadi umat untuk membeli bahan juga luar biasa,” ungkap Natalia Irianti, Wakil Seksi Liturgi Paroki.

Menurut Ketua Seksi Liturgi dan Koordinator Gerakan RMP, Freddy Sajuti, jumlah umat yang hadir dalam Misa itu membeludak. “Saat itu, kami membuat Rosario Hidup. Anggota Bina Iman Anak dan Bina Iman Remaja Paroki berperan seperti manik-manik Rosario, masing-masing menyalakan lilin, mirip seperti bulir RMP karena mereka mengenakan baju merah putih,” kisahnya.

Romo Anton mengatakan, meski dengan persiapan kurang dari sebulan, antusiasme, spontanitas dan keterlibatan umat sangat membanggakan. Bahkan sebelum para romo Paroki itu memintanya, umat sudah bergerak sendiri. Paroki menggelontorkan dana Rp 9,3 juta untuk pembelian bahan pembuatan lebih dari 4.000 RMP. Tiap RMP berarti hanya seharga Rp 2.000, jauh lebih murah daripada membeli di toko.

Angka 4.000 RMP juga dicapai Paroki St Matias Rasul Duri Kosambi. Kepala Paroki, Romo Aloysius Susilo Wijoyo merasa bahagia melihat antusiasme umatnya. Ia menargetkan parokinya bisa membuat 7.000-an RMP sesuai jumlah umat sehingga tiap orang mendapatkan satu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*