Artikel Terbaru

Indonesia dan Katolik Seratus Persen

Indonesia dan Katolik Seratus Persen
1 (20%) 1 vote

Selain itu, Romo Susilo mengajak merefleksikan lebih dalam terkait euforia RMP ini. “Semangat awal gerakan ini adalah kerja keras; butuh waktu, tenaga dan kesabaran untuk membuat RMP. Inilah yang harus disadari. Tiap kita mendoakan Rosario, sebenarnya kita mendoakan negara dan bangsa. Umat Katolik tak boleh lupa hal ini,” tandasnya.

Dengan lugas, Romo Susilo menjelaskan, semangat RMP mestinya menjiwai hati umat Katolik. Orang Katolik harus berani (merah) memberi kesaksian tentang kekatolikan di manapun. Pun tetap melandasi keberanian bersaksi itu dengan kesucian (putih). Dua hal ini tak terpisahkan.

Sementara itu, Kepala Paroki St Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan, Romo Antonius Sumardi SCJ menjelaskan, Gerakan RMP menjadi ajakan KAJ kepada seluruh umat untuk membuka hati terhadap Ardas 2016-2020 “Amalkan Pancasila”. Refleksi dasarnya adalah umat Katolik menyadari peran sebagai bagian dari warga Gereja dan warga negara. “Maka umat Katolik mestinya tidak merasa asing di negeri sendiri, sekalipun minoritas. Pancasila menjadi pengikat semua orang tanpa terkecuali,” tegasnya.

Demi Indonesia
Banyak imam di KAJ merasa bersyukur atas ide Bapa Uskup Agung Jakarta mengenai Gerakan RMP ini. Meskipun Komisi Liturgi dan Katekese KAJ menjadi motor, gerakan ini juga didukung Seksi-seksi Komsos di paroki. Mereka membantu sosialisasi dan menganimasi umat melalui berbagai media.

Muncul beberapa harapan, Gerakan RMP ini akan menjadi gerakan nasional. Sebagai Uskup Ordinariat Militer Indonesia, Mgr Suharyo pun membawa ide ini di tengah umat Katolik anggota TNI/POLRI. Pasca visitasinya di Kupang, NTT, ia dimintai 3.500 RMP untuk umat Ordinariat Militer. Hanya dengan berbekal niat baik, ada yang mengusahakannya. Dalam seminggu permintaan umat Ordinariat Militer itu terpenuhi.

Gerakan RMP yang diseratai panduan doa Rosario kebangsaan untuk anak, kaum muda, dan dewasa, menjadi cara membatinkan kekatolikan dan Pancasila. Harapannya, internalisasi nilai ke-Indonesia-an ini berlimpah buah dan akhirnya menggerakan hati dan kaki tangan untuk bekerja demi bangsa dan negara, selaras dengan nilai-nilai menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia.

R.B.E. Agung Nugroho
Laporan: Yustinus H. Wuarmanuk, Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 21 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 22 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*