Artikel Terbaru

Ignatius Untoro: Suguhkan Sastra Kala Purnama

Ignatius Untoro: Suguhkan Sastra Kala Purnama
1 (20%) 1 vote

Hari itu, sejak siang hingga malam, Tembi Rumah Budaya ditumpahi hujan. Namun, para penyair dari berbagai daerah tetap datang. Dalam malam yang sedang basah, mereka menghangat dalam lantunan karya-karya puisi. Petikan senar-senar gitar yang mengiringi pembacaan puisi membuat suasana kian panas.

Ons mengatakan alasan di balik nama Sastra Bulan Purnama, karena pertama kali digelar bertepatan dengan bulan purnama. “Pertama kali diadakan memang pas bulan purnama, maka saya namakan saja Sastra Bulan Purnama,” tuturnya seraya menjelaskan bahwa sesuai penanggalan Jawa, bulan Purnama akan terjadi antara tanggal 13 sampai 16.

Memberi ruang
Bagi Ons, SBP bukan sekadar perjumpaan fisik para penyair. “Di sini tidak hanya bertemu muka, melainkan mempertemukan karya sastra. Jika dilihat dari karya masing-masing generasi, ternyata, tema-tema puisi masih terus bersambung, hanya dari segi teknis dan bentuk puisi ada yang membedakan,” kata Ons seraya menyebutkan bahwa para penyair tahun 1990an, terutama penyair tahun 2000an, bentuk karya puisinya menyerupai prosa. “Saya melihat mereka ingin menemukan pola lain, yang bukan jenis puisi liris.”

Acara pembacaan puisi dalam SBP ini terkadang juga diisi dengan peluncuran antologi puisi. Acara SBP memberi ruang kepada para penyair yang telah menerbitkan antologi puisi untuk diluncurkan bersama dalam acara tersebut. Sejak awal, Ons sudah menyampaikan kepada para penyair bahwa SBP adalah ruang untuk pertunjukan sastra, dalam hal ini puisi. Maka, setiap penyair diberi kebebasan untuk menafsirkan puisi. Selain dibacakan, bisa dilagukan dan diolah menjadi bentuk drama. “Maka, dalam pertunjukan SBP, selalu ada penyair yang mengolah puisi dengan caranya sendiri, tidak melulu dibacakan,” jelas umat Paroki Maria Assumpta Gamping, Sleman, Keuskupan Agung Semarang ini.

Ia menilai, terkadang orang masih sering salah mengerti terhadap puisi. Seolah puisi hanyalah milik penyair. Padahal menurut Ons, semua orang bisa menulis puisi. “SBP memberi ruang yang menyenangkan untuk bertemu, menulis puisi, dan mengekspresikan karya sastra, baik dibacakan, dilagukan, maupun didramakan,” tutur Ons.

Ons mengaku, sejak awal 1980-an, ia mulai menulis puisi dan bergaul dengan para penyair dan sastrawan. Maka ketika memulai SBP, Ons tak kesulitan mengontak beberapa penyair untuk tampil dalam SBP. Bahkan, beberapa penyair menawarkan diri untuk dapat tampil dalam SBP. “Sastrawan dari Malaysia pun sampai dua kali baca puisi di SBP Tembi ini,” kata Ons penuh semangat.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*