Artikel Terbaru

Sr Yulia Sri Lestari HK: Persembahan Si Burung Prenjak

Sr Yulia Sri Lestari HK: Persembahan Si Burung Prenjak
2.7 (53.33%) 3 votes

Empat hari Sr Yulia beristirahat di RS. Dalam kondisi gering, dia harus terbang ke Lampung. Dia ingin retret dan mengikrarkan kaul kekal. Di tengah kondisi yang belum pulih, Sr Yulia mampu mengikuti seluruh proses persiapan hingga puncak acara. Namun sayang, hanya beberapa jam setelah mengikrarkan janji triprasetya dalam tarekat, Sr Yulia merasakan kepalanya sakit luar biasa. Dia diam di kamar sambil menahan sakit yang tak terkatakan.

Malam hari, Sr Yulia dilarikan lagi ke RS. Dia masuk ruang isolasi. Di sana, Sr Yulia muntah-muntah. Tubuhnya kembali dilengkapi slang. Tak ada orang yang boleh masuk ke ruang perawatannya, selain dokter, perawat, dan suster Pemimpin Umum tarekat. Berdasarkan diagnosa dokter, ada indikasi Sr Yulia mengalami handicapped.

Handicapped merupakan suatu ketidakmampuan seseorang sebagai akibat impairment atau disability sehingga membatasinya untuk melaksanakan peranan hidup secara normal. Impairment berarti kehilangan atau kelainan, baik psikologis, fisiologis maupun struktur atau fungsi anatomis. Sedangkan disability, kurangnya kemampuan individu untuk melakukan kegiatan seperti orang normal.

Sr Yulia hanya bisa tercengang mendengar hasil pemeriksaan. Pikirannya kalut, badan terasa lemas, seakan-akan ingin roboh. “Mana Yulia yang dulu ceria dan lincah? Apakah saya masih bisa kuliah?” tanyanya dalam hati. Sebulan Sr Yulia dirawat. Kerinduannya untuk kembali kuliah tak pernah surut. Syukur, rasa kangennya itu terobati. Tarekat mengizinkannya kembali ke “Kota Pelajar”.

Si Prenjak
Usia tak menghalangi Sr Yulia menjalin relasi dengan mahasiswa dari berbagai angkatan. Di angkatannya tahun 2002, suster yang kini berusia 41 tahun ini merupakah yang tertua. Meski demikian, mahasiswa tak canggung bergaul dengannya. Mereka mengenal Sr Yulia sebagai pribadi yang ramah, ceria, dan luwes.

Mahasiswa seangkatan Sr Yulia menjulukinya prenjak. Prenjak adalah suatu jenis burung kecil, yang lincah meloncat-loncat dari ranting ke ranting pohon, dan suaranya nyaring. Karakter Sr Yulia mirip si prenjak. Bertubuh mungil, lincah, di mana pun dia berada suasana pasti menjadi ramai.

Soal tubuhnya yang mungil dan pendek, Sr Yulia sempat merasa canggung tampil di muka umum. Ketika pertama kali masuk Prodi IPPAK tahun 2002, dia mengaku, lebih nyaman “bersembunyi” di balik teman-temannya. Rutinitasnya semula hanya “kupu-kupu”, kuliah pulang, kuliah pulang.

Seiring waktu, rasa pesimisnya mulai terkikis ketika dirinya didapuk sebagai koordinator Bidang Penalaran di prodinya. Sejak itu, Sr Yulia merasakan berbagai potensi yang selama ini terpendam membuncah, antara lain kepemimpinan dan kesenian. “Kondisi fisik bukan halangan untuk maju,” tuturnya dengan yakin.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*