Artikel Terbaru

Sr Yulia Sri Lestari HK: Persembahan Si Burung Prenjak

Sr Yulia Sri Lestari HK: Persembahan Si Burung Prenjak
2.7 (53.33%) 3 votes

Sayang si prenjak yang semula lincah, gesit, dan ceria, berubah. Kecelakaan pada Mei 2005 itu, membuat Sr Yulia muram, lamban, dan sangat hati-hati bergerak. Dia juga tak boleh banyak pikiran. Jika syaraf di otaknya tegang, kepala bisa terasa sakit luar biasa. Hanya sebulan di Yogyakarta, Sr Yulia mengajukan cuti untuk kedua kalinya. Cuti pertama saat dia mengikuti rekoleksi persiapan kaul kekal selama hampir dua bulan di rumah retret Roncalli, Salatiga, Jawa Tengah.

Sr Yulia kembali ke biara pusat Tarekat Suster-Suster Belaskasih dari Hati Yesus yang Mahakudus di Lampung. Selama di sana, biarawati yang baru berkaul kekal ini mengalami pergulatan batin. Dia belum bisa menerima sakit yang terus mendera kepalanya. Apalagi sakit ini membuatnya seakan-akan menjadi bayi kembali.

Dia belajar makan, membawa piring, sendok, dan berjalan. Sr Yulia merasa hidupnya tak berarti lagi. Kemampuan yang dimilikinya seakan sirna ditekan gering yang menggencetnya. Lebih dari delapan bulan dia tak bisa istirahat dengan pulas. Sementara dia terus mengkonsumsi obat-obatan. “Sehari minum 14 tablet,” katanya memaparkan.

Tarekat HK mengutus Sr Yustina menemani dan mendampingi Sr Yulia yang sedang dilanda kegalauan hebat. Berkat kehadiran seniornya itu, perlahan-lahan semangat Sr Yulia kembali berpijar. Dalam refleksinya, Sr Yulia yakin, dia tetap berharga di mata Tuhan, apa pun kondisi yang dialaminya.

Buah Keyakinan
Keyakinan Sr Yulia berbuah manis. Tuhan tak membiarkan putri-Nya berjuang sendirian menghadapi tantangan. Ketika kembali ke kampus dengan tubuh yang belum bugar, Sr Yulia harus menuntaskan skripsinya. Uniknya, seluruh proses pengerjaan skripsi berjalan mulus. “Mudah sekali saya bertemu dosen pembimbing. Mungkin dosen tak tega melihat kondisi saya,” katanya sambil tertawa ketika dihubungi HIDUP lewat telepon, Selasa, 29/8.

Perjuangan Sr Yulia tak sia-sia, skripsinya rampung. Hasil studinya pun amat memuaskan. Dia mendapat indeks prestasi (IP) empat. Lulus dari kuliah, Sr Yulia kini menjadi kepala sekolah dan pengajar di TK Xaverius Kalianda, Lampung Selatan. Hingga kini, rasa sakit di kepalanya masih terus mendera. Tapi, dia sudah bisa menerima dan bersahabat dengan kondisi demikian.

Sr Yulia merasakan, saat ini sedang menjalani hidup keduanya. Rupanya, Tuhan masih memberikan kehidupan untuknya. Si prenjak bertekad, selama masih diberi kesempatan oleh-Nya, dia akan memberikan seluruh diri untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama.

RD Andreas Basuki W/Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 10 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*